Sidimpuanpos.com – Memasuki pekan pertama Ramadhan, kawasan Siborang menjelma menjadi potret kecil semangat warga Padangsidimpuan menyambut waktu berbuka. Sejak sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, denyut kehidupan di salah satu urat nadi kota itu terasa lebih kencang dari biasanya.
Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat merayap perlahan melintasi jembatan ikonik dan sepanjang Jalan Siborang. Mesin-mesin kendaraan berdengung bersahut-sahutan, namun bukan keluhan yang terdengar—melainkan irama khas sore Ramadhan yang sarat antusiasme.
Di sepanjang trotoar, pedagang takjil musiman berjejer rapi. Aroma kolak yang manis, gorengan yang baru diangkat dari wajan, hingga es buah berwarna-warni bercampur di udara. Warga datang silih berganti, menepi sejenak untuk membeli penganan berbuka, lalu kembali menyatu dalam arus kendaraan yang terus bergerak.
Baca Juga : Berburu Takjil, Warga Padang Lawas Padati Padang Luar
Meski volume kendaraan meningkat tajam dibanding hari biasa, arus lalu lintas tetap mengalir. Tidak ada klakson panjang yang bersahut-sahutan atau wajah-wajah tegang terjebak kemacetan. Yang tampak justru ketertiban—pengendara sabar mengikuti jalur, tak ada parkir sembarangan yang menutup badan jalan.
Bagi Fahri, seorang pemuda yang menikmati ngabuburit dari atas motornya, keramaian ini justru menjadi bagian paling dinanti setiap Ramadhan.
“Ramai sekali memang, tapi hebatnya jalanan tetap gerak. Mungkin karena jalannya lebar dan warga juga tertib nggak parkir sembarangan di tengah jalan. Asyik saja lihat keramaian seperti ini, terasa betul suasana puasa di Sidimpuan,” ujarnya sambil tersenyum.
Di sisi lain trotoar, Kak Linda tampak sibuk memilih kolak untuk keluarganya. Di tengah lalu-lalang kendaraan, ia mengaku tetap merasa nyaman berbelanja.
“Walaupun banyak mobil dan motor lewat, kita yang belanja masih nyaman. Petugas dan warga sepertinya sudah paham, jadi macetnya itu ‘macet sehat’—ramai tapi nggak bikin pusing. Semoga setiap sore selama Ramadhan tetap tertib begini,” katanya.
Lihat Juga : Lampu Hias Ramadan Percantik Wajah Sibuhuan di Malam Hari
Siborang sore itu bukan sekadar jalanan yang padat. Ia menjadi ruang pertemuan: antara pedagang dan pembeli, antara kesibukan dan kesabaran, antara lapar yang ditahan dan kebahagiaan menyambut azan magrib.
Di tengah ramainya kendaraan dan riuh transaksi, ada satu hal yang terasa menonjol—kesadaran bersama. Bahwa keramaian tak harus berujung kekacauan. Bahwa tradisi ngabuburit bisa berjalan beriringan dengan ketertiban.
Sore di Siborang pun menjadi bukti, semangat Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang berbagi ruang, saling memahami, dan menjaga harmoni di tengah hiruk-pikuk kota.(Dani)


