Sidimpuanpos.com – Setiap Senin pagi, bahkan sebelum matahari sepenuhnya meninggi, kawasan Sitamiang sudah menggeliat. Di sekitar Simpang 3 Sitamiang hingga Kamcar, suara kendaraan bercampur dengan panggilan para pedagang yang menawarkan dagangan. Jalan yang biasanya lengang mendadak berubah menjadi lautan tenda dan manusia.
Senin (02/03/2026), Poken Senin kembali digelar. Pasar tumpah mingguan ini seolah menjadi ritual tak tertulis bagi warga. Sejak subuh, para pedagang berdatangan, menggelar terpal, menyusun sayur-mayur, pakaian, hingga peralatan rumah tangga di atas hamparan aspal.
Di antara mereka ada Lubis, pedagang sayur yang datang dari luar kota. Ia mengaku sudah bertahun-tahun menggantungkan harapan pada keramaian Poken Senin.
Baca Juga : Sekdako Padangsidimpuan Terima Audiensi Rumah Gibran Sumut
“Saya berangkat dari rumah subuh sekali supaya dapat lapak bagus di Simpang 3 ini. Walaupun cuma sekali seminggu, omzet di Poken Senin ini seringkali lebih besar dibanding jualan keliling harian. Pembelinya ramai karena mereka tahu di sini harganya miring dan pilihannya banyak,” ujarnya sambil melayani pembeli yang silih berganti.
Keunikan Poken Senin terletak pada keberagaman orang-orang di dalamnya. Petani dari pelosok kampung datang membawa hasil bumi segar yang baru dipanen. Di sisi lain, pedagang dari luar daerah memajang tekstil warna-warni dan perlengkapan rumah tangga modern. Semua bertemu dalam satu ruang sederhana—tanpa sekat, tanpa jarak.
Bagi warga, pasar ini bukan sekadar tempat berbelanja. Maryam, warga Sitamiang, menyebut Poken Senin sebagai bagian dari tradisi yang sulit dipisahkan dari kehidupan mereka.
“Poken ini sudah jadi tradisi buat kami. Memang bikin jalanan agak padat, tapi kami senang karena tidak perlu jauh-jauh ke pasar pusat. Semua ada di sini, dari bumbu dapur sampai baju anak. Istilahnya, kalau belum ke Poken Senin, Seninnya belum lengkap,” tuturnya dengan senyum.
Lihat Juga : Jelang Berbuka Puasa, Simpang Empat Pasar Sibuhuan Dipadati Warga
Keramaian yang sesekali menimbulkan kemacetan kecil itu seolah menjadi harga yang rela dibayar warga demi kemudahan dan kebersamaan. Tawar-menawar terdengar akrab, sapaan antarwarga terjalin hangat, dan canda tawa mengisi sela transaksi.
Meski hanya hadir sekali dalam sepekan, Poken Senin di Sitamiang dan Kamcar membuktikan bahwa pasar tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Ia bukan hanya ruang ekonomi, melainkan juga ruang perjumpaan—tempat cerita, harapan, dan silaturahmi tumbuh di antara deretan lapak sederhana.(Dani)


