Sidimpuanpos.com – Relawan melaporkan sejumlah wilayah seperti Hutanabolon, Sitahuis, Aloban Bair, Jalan Murai, dan Hutaraja masih terisolir akibat banjir dan longsor pada Kamis (11/12/2025).
Kondisi ini disampaikan relawan Muhammad Lucky Alfarizi, yang telah membantu warga sejak 1 Desember.
Lucky menyebut banjir merendam permukiman di Hutanabolon dengan ketinggian air bervariasi. “Di sana air ada yang selutut, ada yang sepinggang. Aksesnya tertutup lumpur, jadi harus pakai mobil off-road supaya bisa masuk,” ujarnya.
Baca Juga : Satlantas Imbau Kendaraan Besar Hindari Jalur Sopotinjak Akibat Longsor
Ia mengatakan terdapat empat posko di Hutanabolon, sementara warga di Subuluan memilih bertahan di rumah. Bantuan diberikan langsung ke warga terdampak.
“Jenis bantuannya mulai dari logistik, obat-obatan, makanan bayi, perlengkapan wanita, sampai pakaian. Semuanya kami antar langsung agar benar-benar sampai ke warga yang membutuhkan,” katanya.
Akses jalan menjadi kendala utama, terutama menuju Hutaraja. “Akses ke Hutaraja sempat macet parah, dan jalan di sana juga amblas. Kami sampai harus menginap satu malam di Pandan,” ungkap Lucky.
Ia menambahkan kelangkaan BBM hanya dirasakan di Padangsidimpuan, sementara Sibolga dalam kondisi aman.
Lucky mengatakan warga menyambut baik bantuan yang disalurkan. “Respon masyarakat sangat baik, mereka benar-benar senang dan merasa terbantu,” ujarnya. Namun, ia menegaskan masih banyak titik yang belum tersentuh bantuan karena alat berat tidak bisa masuk dan akses tertutup total.
Dalam dua minggu terakhir, relawan telah beberapa kali bergerak ke Tapsel dan Tapteng. “Ke Tapteng saja kami sudah empat kali. Berangkat pagi jam 8, balik jam 10 malam, yang keempat kami harus menginap karena akses amblas,” tuturnya.
Lihat Juga : Aksi Donasi GERCEP untuk Warga Terdampak Bencana Sumut
Lucky berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada wilayah terisolir. “Belum semua daerah dijangkau pemerintah. Contohnya di Sitahuis, jalan lintas Sibolga–Tarutung putus total karena longsor. Kalau tidak lewat udara, kami harus jalan kaki sampai 20 kilometer,” katanya.
Lucky menambahkan pihaknya bersama sejumlah relawan independen berencana membuka open donasi terakhir pekan ini, menyesuaikan kondisi cuaca yang masih berstatus siaga 1.(SW)


