Rabu, Oktober 14, 2026

Pemprov Sumut Dukung Museum Pusaka Nias Mendunia

Must Read

Sidimpuanpos.com – Jejak panjang peradaban masyarakat Ono Niha yang tersimpan di Museum Pusaka Nias di Kota Gunungsitoli dinilai memiliki nilai sejarah yang tak ternilai. Warisan budaya tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Nias, tetapi juga dikenal dunia sebagai salah satu destinasi wisata sejarah unggulan.

Harapan itu disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, saat mengunjungi Museum Pusaka Nias, Rabu (22/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Surya menyaksikan langsung berbagai koleksi yang menjadi bukti perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Nias yang hingga kini tetap terjaga berkat peran masyarakat adat.

“Ternyata Nias ini dalam sejarah tercatat di mancanegara. Kami akan bawa ini untuk ditularkan kepada generasi muda di luar Kepulauan Nias,” ujar Surya yang didampingi Staf Ahli I TP PKK Sumut Titiek Sugiharti dan Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli.

Baca Juga :

Menurut Surya, seluruh koleksi yang tersimpan di museum memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Karena itu, pelestarian warisan tersebut menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan membawa harapan pengembangan Museum Pusaka Nias kepada Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution agar mendapat perhatian dan dukungan sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya.

Surya mengatakan, komitmen tersebut sejalan dengan langkah Gubernur Bobby Nasution yang berkantor di Kepulauan Nias untuk mempercepat pembangunan sekaligus menghapus status daerah tertinggal melalui berbagai program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Ini adalah tekad kami bersama, dan Pak Gubernur sudah sepekan di sini. Kami saling bergantian. Semoga tidak ada lagi daerah yang tertinggal di Kepulauan Nias. Menjaga bukti sejarah ini juga sangat penting, sebagai sumber pengetahuan sekaligus destinasi wisata yang tidak kalah menarik dari daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Direktur Museum Pusaka Nias, Nata’alui Duha, menjelaskan secara historis Kepulauan Nias terbagi dalam dua kawasan budaya besar, yakni Nias Utara dan Nias Selatan. Perbedaan itu terlihat dari bentuk rumah adat, dialek bahasa, hingga tradisi yang berkembang di masing-masing wilayah.

Menurutnya, rumah adat di Nias Selatan berbentuk segi empat, sedangkan di Nias Utara berbentuk oval. Perbedaan bahasa juga masih terasa meski seluruh wilayah tersebut dulunya merupakan satu kesatuan sebelum pemekaran kabupaten dan kota.

Nata juga mengungkap salah satu kisah kelam masyarakat Nias pada masa kolonial. Saat itu, sejumlah warga dijadikan objek penelitian oleh ilmuwan Belanda dengan cara wajah mereka dicetak menggunakan gipsum selama berjam-jam. Hasil cetakan tersebut kemudian dibawa ke Belanda sebagai bahan penelitian.

Lihat Juga : RSUD dr Thomsen Nias Diperkuat Layani Warga Kepulauan

“Jadi ini sejarah bagaimana orang Nias dijadikan bahan riset, tetapi caranya dipaksa dan terkesan disiksa. Cetakan itu kemudian dibawa ke Belanda sebagai bahan penelitian. Dan gambar-gambar ini adalah mereka yang dicetak bentuk wajahnya,” ujarnya.

Ia berharap perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terhadap Museum Pusaka Nias dapat memperkuat upaya pelestarian sekaligus pengembangan museum sebagai destinasi wisata sejarah unggulan. Dengan demikian, kekayaan budaya masyarakat Nias semakin dikenal luas dan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata serta perekonomian masyarakat Kepulauan Nias.(Ali)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This