Sidimpuanpos.com – Penguatan ekonomi halal kembali menjadi salah satu agenda penting pembangunan di Sumatera Utara. Di bawah kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution, gagasan tersebut akan diwujudkan lewat gelaran Sumut Halal Fest 2026 yang akan berlangsung di areal Eks Medan Club, Kantor Gubsu, pada 26–27 Agustus mendatang.
Bukan sekadar ajang pameran produk halal biasa, festival ini dirancang menjadi ruang pertemuan antara pelaku UMKM dengan sertifikasi, akses pembiayaan, perbankan, pasar, hingga pengetahuan ekonomi syariah. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP., Selasa (18/8/2026).
Bagi Yuliani, mendorong masyarakat sekadar menghasilkan produk saja tidaklah cukup. Produk-produk UMKM perlu memiliki kualitas terjaga, kepastian status halal, kemudahan akses pembiayaan, kemampuan menembus pasar yang lebih luas, hingga peluang untuk terus bertumbuh dan naik kelas.
Karena itulah, Sumut Halal Fest mengusung semangat “Kolaborasi Akselerasi Penguatan Ekosistem Halal melalui Sertifikasi Halal, Integrasi Ekonomi Syariah dan Digitalisasi untuk Mendukung Stabilitas serta Transformasi Ekonomi Sumatera Utara.”
Baca Juga : Haru dan Bangga Warnai Malam Ramah Tamah Paskibraka Padang Lawas
Setidaknya ada tiga pintu utama yang dibuka Pemprov Sumut melalui gelaran ini. Pertama, memudahkan pelaku UMKM masuk ke dalam ekosistem halal. Yuliani menyebutkan, Pemprov Sumut akan memfasilitasi penerbitan 1.000 sertifikat halal secara gratis bagi para pelaku usaha, sebagai langkah nyata membantu meningkatkan daya saing sekaligus memperluas peluang pemasaran produk mereka.
Fasilitasi ini turut dirangkai dengan workshop bertajuk 1.000 UMKM Go Halal, expo produk halal, serta desk layanan izin usaha, izin edar, dan sertifikasi halal. Bagi pelaku usaha kecil, sertifikasi halal bukan sekadar label formalitas, melainkan fondasi membangun kepercayaan konsumen sekaligus membuka gerbang menuju pasar yang lebih luas. Di sinilah letak gagasan Yuliani yang menarik perhatian—ia tidak ingin program halal ini berhenti hanya pada penerbitan sertifikat semata, melainkan menjadi bagian dari perjalanan panjang UMKM menuju produk yang lebih kompetitif dan berkualitas.
Pintu kedua adalah mempertemukan UMKM dengan akses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Dalam agenda ini, peran Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara turut menjadi bagian penting dari kolaborasi yang dibangun. Menurut Yuliani, penguatan UMKM mustahil dilakukan pemerintah seorang diri—dukungan BI sangat dibutuhkan, khususnya dalam memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, membuka akses pembiayaan, serta mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga keuangan melalui business matching.
Kolaborasi antara Pemprov Sumut dan BI Sumut ini menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak berhenti pada tahap produksi dan sertifikasi saja, melainkan terus berlanjut hingga akses modal, perluasan pasar, dan penguatan kapasitas usaha. Sumut Halal Fest pun menghadirkan business matching pembiayaan, bazar dan pameran UMKM, Halal Centre, layanan perbankan, serta berbagai forum yang mempertemukan pelaku usaha dengan ekosistem pendukungnya.
Pada titik inilah kegiatan tersebut menjelma lebih dari sekadar festival biasa—ia berpotensi menjadi ruang pertemuan antara produk, modal, pasar, dan konsumen sekaligus. Langkah ini pun sejalan dengan agenda besar Dinas Koperasi dan UKM Sumut untuk mendorong UMKM lokal menembus pasar global. Dalam program Sumut Digital Market misalnya, sebanyak 100 UMKM potensial ekspor tengah disiapkan mendapat pendampingan, termasuk pemanfaatan marketplace global.
Adapun pintu ketiga adalah membangun literasi ekonomi syariah, lewat forum dan talkshow ekonomi syariah, penyajian data ekonomi syariah, Halal Centre, hingga layanan perbankan yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Namun ada satu magnet lain yang diprediksi akan menyedot perhatian publik: rangkaian acara juga akan diramaikan Tabligh Akbar bersama Ustadz Hilman Fauzi, dai muda yang dikenal luas lewat gaya dakwahnya yang ringan, komunikatif, dan dekat dengan generasi muda. Sejumlah sumber menyebutnya sebagai penceramah muda populer lewat tausiyah dan konten dakwah di media sosial. Kehadirannya memberi warna berbeda—festival ekonomi halal ini tak melulu bicara transaksi, sertifikasi, modal, dan pasar, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual masyarakat.
Dengan begitu, Sumut Halal Fest 2026 seolah mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: iman, UMKM, dan ekonomi. Bagi Bobby Nasution, pendekatan semacam ini dinilai penting sebab ekonomi halal tidak cukup dibangun dari atas semata melalui kebijakan pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi erat dengan Bank Indonesia, kementerian terkait, perbankan, pelaku usaha, lembaga sertifikasi, komunitas, hingga masyarakat luas. Itulah mengapa kata “kolaborasi” menjadi kunci utama dalam agenda ini—Pemprov tak sekadar menyediakan panggung, tetapi tengah membangun sebuah ekosistem yang utuh.
Di sinilah posisi Yuliani menjadi strategis. Baru saja dipercaya memimpin Dinas Koperasi dan UKM, ia langsung membawa sejumlah gagasan yang berorientasi pada penguatan ekosistem, bukan sekadar seremoni belaka. Sebelumnya, Yuliani juga telah memaparkan rencana transformasi PLUT menjadi Mall Layanan UMKM Terintegrasi. PLUT di kawasan PRSU diarahkan bukan hanya sebagai tempat konsultasi, melainkan kelak menjadi pusat layanan, pendampingan, promosi, legalitas, sertifikasi, pembiayaan, hingga pemasaran produk UMKM Sumatera Utara—layaknya pusat oleh-oleh dan pemasaran produk daerah yang telah lebih dulu ada di sejumlah provinsi lain.
Dari sini, benang merahnya pun mulai terlihat jelas: Sumut Halal Fest bukanlah program yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari desain besar Yuliani untuk membawa UMKM Sumatera Utara beranjak dari sekadar bertahan menuju naik kelas.
Lihat Juga : 25 Ton Bantuan Polda Sumut Meluncur Bantu Korban Gempa NTT
Karena itu, tolok ukur keberhasilan festival ini kelak bukan semata seramai apa pengunjung yang hadir, melainkan berapa banyak UMKM yang berhasil memperoleh sertifikasi, mendapatkan akses pembiayaan, memperluas pasar, memperbaiki kualitas produk, hingga akhirnya mampu tumbuh lebih besar. Di titiklah Sumut Halal Fest 2026 menemukan makna sesungguhnya—bukan sekadar gebyar dua hari, melainkan jika rangkaiannya terus berlanjut menjadi ekosistem yang tetap bekerja setelah festival usai, kegiatan ini berpotensi menjadi salah satu instrumen menerjemahkan visi Kolaborasi Sumut Berkah ke dalam denyut nyata ekonomi masyarakat.
Dari kawasan PRSU, Sumatera Utara tengah mencoba membuktikan bahwa ekonomi halal bukan lagi sekadar ceruk pasar kecil, melainkan bisa menjelma kekuatan baru penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Bagi Bobby Nasution, tantangannya adalah memastikan kolaborasi ini tidak berhenti sebatas panggung festival semata. Sementara bagi Yuliani Siregar, inilah salah satu gebrakan awalnya—memastikan UMKM tak hanya mengantongi sertifikat halal, tetapi juga mendapatkan jalan menuju pasar, pembiayaan, kualitas produk, dan masa depan usaha yang jauh lebih besar.
Jika langkah ini berhasil, Sumut Halal Fest tidak akan berhenti sebagai sekadar acara tahunan—ia akan berubah menjadi sebuah gerakan ekonomi yang hidup dan berkelanjutan.(Ali)


