Sidimpuanpos.com – Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Padangsidimpuan, Julpan Tambunan, melakukan kunjungan inspiratif ke Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Jumat (5/9/2025).
Kunjungan ini bertujuan untuk bertemu langsung dengan Abdul Wahid Harahap, sosok petani kopi yang sukses membawa nama daerah hingga ke panggung internasional lewat merek Tyyana Coffee.
Ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara dunia usaha, pemerintah dan masyarakat dalam memajukan sektor pertanian sekaligus membawa nama Tapsel dan Kota Padangsidimpuan semakin dikenal di dunia.
Baca Juga : KADIN Gelar Workshop UMKM, Wali Kota Dukung Penuh
Dalam pertemuan tersebut, Julpan mengungkapkan kekagumannya terhadap perjalanan panjang Tyyana Coffee yang dirintis sejak tahun 2010 dari nol hingga kini dikenal luas di mancanegara.
” Ini adalah contoh nyata bagaimana usaha keras, ketekunan, dan pemahaman yang mendalam terhadap alam dapat mengantarkan produk lokal kita menembus pasar global, ” ujar Julpan penuh apresiasi.
Menurutnya, keberhasilan Abdul Wahid merupakan inspirasi bagi para pelaku usaha dan petani di Padangsidimpuan maupun Tapsel
” Tyyana Coffee adalah bukti bahwa ketika seorang pengusaha memahami proses dari hulu ke hilir, hasilnya bisa maksimal. Ini pelajaran berharga yang perlu ditiru oleh petani dan pelaku UMKM lain di daerah kita, ” tambahnya.
Julpan menegaskan bahwa KADIN Padangsidimpuan siap menjadi mitra strategis bagi pelaku UMKM dan petani lokal di Kota Padangsidimpuan yang ingin berkembang.
” Kami tidak hanya melihat Abdul Wahid sebagai sosok inspiratif, tapi juga sebagai bukti bahwa produk lokal kita punya daya saing global. KADIN akan berupaya mendorong lebih banyak petani dan UMKM untuk mengikuti jejak ini, ” tutup Julpan.
Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid berbagi cerita tentang perjalanan panjangnya. Ia mengaku sempat menerima dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat dijabat Siti Nurbaya, berupa bantuan bangunan dan peralatan senilai hampir Rp2 miliar.
” Bantuan ini sangat berarti bagi pengembangan usaha kami, terutama dalam meningkatkan kapasitas produksi, ” ungkapnya.
Tak hanya itu, Wahid juga menceritakan pengalaman uniknya saat diundang sebagai narasumber pelatihan daring (zoom) tentang kopi.
Dengan senyum penuh kebanggaan, ia berkata, selama dua jam berbagi ilmu, honorarium yang diterimanya bahkan melebihi penghasilan seorang ASN selama satu tahun.
” Ini bukan semata soal uang, tapi bukti bahwa ilmu dan pengalaman yang kita miliki bisa dihargai tinggi di tingkat internasional, ” ucapnya
Bagi Wahid, kopi bukan sekadar tanaman, melainkan bagian dari hidup yang dirawat dengan penuh perhatian dan kecintaan.
Lihat Juga : Kodim 0212/Tapsel Gandeng Ratusan Mahasiswa Perkuat Wawasan Kebangsaan
” Merawat kopi itu seperti merawat seorang anak, penuh cinta dan kesabaran. Dari proses menanam, merawat, hingga panen, semuanya butuh jiwa dan dedikasi, ” tuturnya.
Ia juga berharap pemerintah daerah tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi turun langsung melihat kondisi di lapangan dan mendengar keluhan para petani.
” Kalau pemerintah datang langsung, mereka akan tahu apa yang benar-benar kami butuhkan. Dengan begitu, program dan dukungan yang diberikan bisa tepat sasaran,” ujarnya penuh harap.(Samsul)


