Sidimpuanpos.com – Siapa sangka, tanaman rotan yang selama ini dikenal keras dan identik sebagai bahan baku furnitur, justru bisa menjelma menjadi kuliner tradisional yang menggugah selera. Di Kota Padangsidimpuan, olahan unik ini dikenal dengan nama pakkat.
Pakkat berasal dari tunas muda rotan yang masih lembut. Proses pengolahannya terbilang sederhana, namun membutuhkan ketelatenan. Batang rotan muda terlebih dahulu dibakar hingga kulit luarnya menghitam, lalu dikupas untuk diambil bagian dalamnya yang berwarna putih kekuningan. Teksturnya lembut dengan cita rasa khas—sedikit pahit namun justru menjadi daya tarik tersendiri.
Bagi masyarakat Padangsidimpuan, pakkat bukan sekadar makanan. Kuliner ini memiliki nilai budaya dan emosional yang kuat, terutama saat bulan Ramadan. Pakkat kerap hadir di meja makan sebagai menu berbuka puasa, disantap bersama sambal dan lauk sederhana lainnya.
Baca Juga : Kelangkaan BBM, SPBU Bangun Raya Padang Lawas Tampak Sepi
“Rasanya memang pahit, tapi di situlah nikmatnya. Dari dulu orang tua kami sudah biasa makan pakkat,” ujar seorang warga sambil memilih rotan muda di pasar tradisional.
Di tengah gempuran makanan modern, pakkat tetap bertahan sebagai kuliner khas daerah. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa kekayaan alam dan tradisi lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dari tanaman keras yang tumbuh liar di hutan, pakkat membuktikan bahwa kearifan lokal mampu mengolah alam menjadi sajian bernilai rasa dan cerita.
Kuliner ekstrem namun menyehatkan ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari lidah masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabasel).
Pakkat sebenarnya adalah pucuk rotan muda yang masih lunak. Proses pembuatannya pun tergolong unik; pucuk rotan dibakar di atas bara api hingga kulit luarnya menghitam atau sedikit gosong. Setelah matang, kulit rotan dikupas untuk mengambil bagian dalamnya yang berwarna putih dan memiliki tekstur lembut.
Meski menjadi makanan khas daerah, ketersediaan bahan baku rotan muda ini ternyata bergantung pada pengiriman dari luar daerah. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang penjual Pakkat di pusat kota.
“Rotan-rotan ini kami datangkan langsung dari Pekanbaru. Di sana ada toke (pengepul) khusus yang memang rutin mengirim stok ke kami di Sidempuan. Kalau mengandalkan hutan sekitar sini saja, stoknya tidak mencukupi karena peminatnya sangat banyak setiap hari,” ujar sang penjual.
Secara alami, Pakkat memiliki cita rasa yang dominan pahit. Namun, bagi warga Padangsidimpuan, rasa pahit itulah yang dicari karena diyakini dapat menambah nafsu makan dan baik untuk kesehatan lambung. Untuk menyeimbangkan rasanya, warga memiliki cara tersendiri dalam menyajikannya.
Pucuk rotan yang sudah dibakar biasanya diiris kecil-kecil, lalu dicampurkan dengan racikan bumbu segar yang terdiri dari:
- Irisan bawang merah
- Cabai Giling
- Perasaan jeruk nipis
- Kecap Asin
Lihat Juga : Harga Sembako di Pasar Tandihat Sibuhuan Naik Jelang Ramadan
Seorang warga lokal, Ibu Nur (48), mengungkapkan bahwa Pakkat adalah menu wajib yang harus ada di meja makan, terutama saat makan siang.
”Rasanya memang pahit, tapi setelah dicampur jeruk nipis dan bawang, pahitnya jadi segar. Makan pakai nasi hangat dan ikan sale, rasanya luar biasa. Kalau belum ada Pakkat, rasanya selera makan belum bangkit,” tuturnya.
Keberadaan Pakkat di Padangsidimpuan membuktikan bahwa kreativitas kuliner lokal mampu mengubah hasil hutan menjadi hidangan berkelas yang terus dicintai lintas generasi.(Dani)


