Sidimpuanpos.com, TAPANULI SELATAN – Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai digenangi pada Jumat (9/10/2026). Penggenangan ini menjadi tahapan penting untuk mendorong pengoperasian pembangkit tersebut menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, yang mengoordinasikan proses penggenangan dan pengoperasian, menargetkan PLTA Batang Toru dapat beroperasi untuk membantu memenuhi peningkatan kebutuhan listrik pada periode Natal dan Tahun Baru.
Kehadiran PLTA Batang Toru dinilai penting karena kebutuhan listrik biasanya meningkat saat Nataru, sementara cadangan operasional sistem kelistrikan Sumatera masih terbatas.
“Cadangan operasional hanya 4 persen. Idealnya kan sekitar 15 sampai 20 persen,” ungkap Yuliot.
Baca Juga: Buka PORSADIN 2026, Wali Kota Padangsidimpuan Dukung Pembinaan Generasi Qurani
PLN menambahkan, sistem kelistrikan Sumatera bagian utara saat ini masih mendapat dukungan pasokan listrik dari Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi. Dengan pertumbuhan beban listrik Sumatera Utara sekitar 100-120 MW per tahun, tambahan daya 510 MW dari PLTA Batang Toru diharapkan dapat menopang kebutuhan listrik provinsi ini hingga empat sampai lima tahun ke depan.
Yuliot menjelaskan, penggenangan waduk menjadi syarat penting untuk melakukan pengujian terhadap seluruh fasilitas pembangkit, mulai dari powerhouse, ketinggian genangan sesuai target, hingga penyaluran daya ke jaringan transmisi.
“Jadi, tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini,” ujar Yuliot.
Proses penggenangan dipercepat pada triwulan IV 2026, dilanjutkan dengan pengujian seluruh instrumen selama dua pekan. Setelah tahapan tersebut, pembangkit akan diuji untuk masuk ke jaringan PLN sebelum resmi beroperasi.
“Dari Kementerian ESDM tinggal memastikan bisa berjalan baik. Kalau sudah berjalan dengan baik, kita akan menerbitkan sertifikat laik operasi,” kata Yuliot.
Penggenangan waduk dapat dilakukan setelah seluruh persoalan administrasi diselesaikan, termasuk kewajiban kepada Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH dan Kementerian Kehutanan. Penyelesaiannya dikawal bersama oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Kementerian Kehutanan, serta Kejaksaan Agung sebagai bentuk dukungan lintas kementerian dan lembaga terhadap ketahanan energi nasional.
Lihat Juga: Pemko Padangsidimpuan Nilai Kesiapan BLUD Puskesmas, Targetkan Terbentuk 2027
PLTA Batang Toru juga diandalkan karena memiliki sumber pasokan air yang dinilai stabil. Hulu sungainya terhubung dengan Danau Toba, sehingga ketersediaan air dinilai cukup untuk mendukung operasional pembangkit, termasuk saat menghadapi kondisi El Nino.
Proyek strategis nasional senilai Rp21,6 triliun ini terdiri atas empat unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 127,5 MW. Pengembangnya, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), juga telah menyiapkan kajian pengembangan tahap kedua dengan kapasitas tambahan 160 MW.
Yuliot memastikan sebagian besar tenaga kerja proyek berasal dari tenaga lokal, sementara penggunaan peralatan dalam negeri dilakukan sejauh memungkinkan.
Dengan dimulainya penggenangan waduk, PLTA Batang Toru memasuki tahapan penting menuju pengoperasian. Pembangkit ini diharapkan dapat memperkuat keandalan pasokan listrik Sumatera Utara menjelang Nataru sekaligus mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional.(galeh)


