Sidimpuanpos.com – Hampir satu bulan setelah banjir bandang dan longsor melanda Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), aktivitas produksi di Tambang Emas Martabe milik PT Agincourt Resources (PTAR) masih sepenuhnya dihentikan.
Penghentian sementara tersebut dilakukan seiring audit lingkungan yang tengah dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup pascabencana di wilayah Batangtoru dan sekitarnya. Sejak 6 Desember 2025, seluruh pit tambang berada dalam kondisi nol produksi.
Meski operasional tambang terhenti, aktivitas pemulihan masyarakat terdampak bencana terus berlangsung. Di sejumlah posko pengungsian, dapur umum beroperasi sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan pengungsi. Alat berat masih dikerahkan di beberapa titik, termasuk untuk pembersihan material longsor dan persiapan lahan pembangunan hunian sementara.
Baca Juga : Menkes Tegaskan Super Flu Bukan Seperti COVID-19
PTAR turut mengerahkan alat berat perusahaan sebagai bagian dari dukungan terhadap pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak. Upaya ini menjadi bagian dari proses penanganan dan pemulihan pascabencana.
Sementara itu, kondisi masyarakat Batangtoru masih dalam tahap pemulihan. Perbaikan akses jalan yang sempat tertutup longsor terus dilakukan, kebutuhan dasar pengungsi masih harus dipenuhi, serta faktor cuaca yang belum sepenuhnya stabil turut memengaruhi proses penanganan.
Berbanding terbalik dengan aktivitas di posko pengungsian, kawasan operasional Tambang Emas Martabe terlihat lengang. Seorang karyawan PTAR dari Departemen Mining, Tina Lisa, menyebut seluruh aktivitas produksi telah berhenti sejak awal Desember.
“Waktu banjir dan longsor, produksi tidak berjalan penuh, lalu benar-benar berhenti sejak 6 Desember. Ada karyawan yang rumahnya kebanjiran, ada juga yang tidak bisa masuk ke area tambang karena akses jalan tertutup longsor. Karyawan yang bisa masuk ikut membantu penanganan dampak banjir dan longsor,” ujar Tina.
Meski demikian, beberapa pekerjaan krusial tetap dijalankan, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan dan lingkungan. Di antaranya perawatan ribuan bibit tanaman di area nursery serta pemeliharaan fasilitas tailings yang tidak dapat dihentikan.
Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian Hardono, menegaskan penghentian produksi tidak menghentikan komitmen perusahaan dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana.
“Karyawan kami juga terlibat langsung sebagai relawan di lapangan. Hampir satu bulan terakhir sejak 6 Desember 2025, kegiatan operasional produksi di seluruh pit Tambang Emas Martabe memang dihentikan sementara,” ujar Katarina, Jumat (2/1/2026).
Ia menambahkan, sejak hari pertama bencana, perusahaan mengalihkan sumber daya untuk membuka kembali akses jalan, mengelola posko pengungsian, menyalurkan bantuan logistik, serta menyediakan layanan kesehatan. PTAR juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam pembangunan hunian sementara.
Lihat Juga : KUHP Baru Resmi Berlaku, Tidak Berlaku Surut
Terkait kelanjutan operasional tambang, Katarina menegaskan pihaknya mengikuti seluruh proses evaluasi pemerintah secara kooperatif dan meminta semua pihak menunggu keputusan resmi dari otoritas berwenang.
“Kami mengikuti seluruh tahap evaluasi pemerintah secara penuh dan kooperatif. Proses ini masih berjalan, sehingga kami memandang penting bagi semua pihak untuk menunggu keputusan resmi dan tidak menarik kesimpulan sebelum hasil final disampaikan,” katanya. (Galeh)


