Kamis, Oktober 15, 2026

Deru Mesin Kanan Becak Vespa Kian Hilang dari Padangsidimpuan

Must Read

sidimpuanpos.com – Suara khas mesin dua tak yang dulu “meledak-ledak” dari sisi kanan kendaraan kini semakin jarang terdengar di sudut-sudut Kota Padangsidimpuan. Becak Vespa—ikon transportasi sekaligus kebanggaan kota berjuluk Salumpat Saindege—perlahan menghilang dari jalanan.

Di sejumlah pangkalan, satu per satu penarik becak mulai menanggalkan mesin pabrikan Italia yang telah menemani mereka puluhan tahun. Pilihan berat itu diambil demi bertahan hidup. Mesin Vespa diganti dengan sepeda motor Jepang yang dianggap lebih irit, mudah dirawat, dan bertenaga.

“Sekarang sudah susah cari onderdil Vespa. Harus pesan ke luar kota, kadang barang bekas pun mahal. Belum lagi bensinnya boros,” ujar seorang penarik becak senior di pangkalan Simpang Masjid Raya Al-Abror, sambil menatap becaknya yang sudah tak lagi menggunakan mesin Vespa.

Baca Juga : Puluhan Siswa SMAN 1 Sayur Matinggi Cairkan PIP di BNI Padangsidimpuan

Bagi para penarik betor, efisiensi menjadi kunci. Di tengah persaingan transportasi yang semakin ketat, terutama dengan hadirnya ojek dan taksi online, mesin modern memberi harapan untuk mengejar setoran harian dan tetap membawa pulang nafkah bagi keluarga.

Perubahan itu perlahan mengubah wajah Kota Padangsidimpuan. Jika dulu deretan Becak Vespa berwarna cerah menjadi pemandangan khas dan daya tarik tersendiri bagi pendatang, kini pemandangan tersebut tergantikan oleh sepeda motor modern yang dimodifikasi dengan gandengan samping.

Bagi penumpang, becak bermesin baru memang terasa lebih halus dan nyaman. Namun bagi sebagian warga, hilangnya Becak Vespa menyisakan kerinduan. Mereka menganggap becak tersebut bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari identitas kota.

“Dulu, kalau dengar suara ‘teng-teng-teng’ dari knalpot Vespa, orang tahu sudah sampai di Sidimpuan. Sekarang suaranya sudah sama semua dengan kota lain,” ujar seorang warga, mengenang masa lalu.

Dilema pun tak terelakkan. Modernisasi menjadi kebutuhan para penarik betor demi menyambung hidup, sementara pelestarian Becak Vespa nyaris tak memiliki ruang tanpa adanya perhatian atau kebijakan khusus. Tanpa itu, bukan tak mungkin Becak Vespa hanya akan tersisa sebagai koleksi pribadi atau pajangan museum.

Lihat Juga : Pantau Harga Pangan, Dinas Perdagangan Padangsidimpuan Pastikan Pendataan Transparan

Meski demikian, sejumlah parbetor masih setia mempertahankan mesin Vespa mereka. Jumlahnya memang tak sebanyak dulu, namun keberadaan mereka setidaknya masih menjadi pengobat rindu bagi warga yang mencintai keunikan kota ini.

Kini, deru “mesin kanan” itu kian meredup—perlahan tenggelam di tengah bisingnya modernisasi yang terus melaju di aspal Kota Padangsidimpuan.(Dani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This