Selasa, Oktober 13, 2026

Bedah Buku “Menulis Pemilu”, Yulhasni Ajak Refleksi Jelang Pemilu 2029

Must Read

Sidimpuanpos.com – Penyelenggaraan Pemilu 2024 masih menyimpan banyak catatan yang layak direnungkan bersama. Hal itu menjadi benang merah dalam kegiatan bedah buku bertajuk “Menulis Pemilu: Mengupas Tuntas Dilema Hak Pilih, Esensi Kemanusiaan dan Potret Kualitas Demokrasi di Era New Normal” karya Yulhasni, yang digelar secara luring dan daring, Senin (3/8/2026).

Acara yang diikuti ratusan peserta dari berbagai latar belakang ini menghadirkan unsur Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), kalangan akademisi, jurnalis, hingga tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Kota Padangsidimpuan, hadir Ketua KPU Tagor Dumora Lubis beserta jajaran komisioner, Komisioner Bawaslu Habib Pohan, Sekretaris KPU Deka Lubis, serta jajaran sekretariat KPU setempat.

Sebagai penulis sekaligus narasumber, Yulhasni tampil didampingi pemateri Fadlyka Himmah Syahputra, akademisi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada), bersama Robby Efendi, dengan dipandu moderator Abdul Aziz Nasution. Diskusi berlangsung hidup dan interaktif, melibatkan peserta baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring.

Baca Juga : Dua Pekan, Polres Padangsidimpuan Bongkar Enam Kasus Narkoba

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini menegaskan, bukunya lahir sebagai ruang refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi jalannya Pemilu 2024 sebagai bekal menghadapi Pemilu 2029.

Mantan jurnalis yang juga pernah menjabat Ketua KPU Sumatera Utara ini menegaskan, karyanya bukan dimaksudkan untuk mencari-cari kelemahan penyelenggara maupun menyalahkan pihak tertentu. Sebaliknya, buku tersebut merupakan buah pengamatan dan perenungan atas dinamika kepemiluan agar dapat menjadi pelajaran bersama.

“Buku ini bukan untuk menunjukkan sisi lemah penyelenggaraan Pemilu. Yang ingin dibangun adalah ruang refleksi dan memperkaya wawasan kita bersama. Evaluasi sangat penting agar setiap pengalaman menjadi pelajaran dalam memperkuat kualitas demokrasi dan penyelenggaraan pemilu ke depan,” ujar Yulhasni.

Ia menilai, Pemilu 2024 menyisakan banyak pelajaran, mulai dari rumitnya tahapan pemilu, beratnya beban kerja petugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS), hingga tantangan menjaga integritas pemilu di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan para petugas pemilu mesti menjadi perhatian serius menjelang Pemilu 2029.

“Beban kerja yang tinggi perlu diimbangi dengan sistem kerja yang lebih baik agar proses demokrasi berjalan efektif tanpa mengorbankan para penyelenggara di lapangan,” katanya.

Yulhasni juga menyoroti tantangan demokrasi di era digital. Ia menilai, keterbukaan informasi yang semakin masif turut memunculkan berbagai kerawanan baru yang harus diwaspadai bersama. “Fenomena kotak kosong merupakan salah satu dinamika dalam demokrasi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi berbagai kerawanan di era keterbukaan digital. Informasi menyebar begitu cepat dan dapat memengaruhi persepsi publik. Karena itu, literasi digital menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh tahapan pemilu perlu dipahami secara utuh, tak hanya dari sisi teknis penyelenggaraan semata. Menurutnya, ada tiga hal penting yang harus berjalan beriringan untuk membangun demokrasi berkualitas, yakni keakuratan data, kekuatan pilar penyelenggara, dan substansi demokrasi itu sendiri. “Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan konstruktif yang dapat menjadi kontribusi bagi penguatan demokrasi serta peningkatan kualitas penyelenggaraan Pemilu di Indonesia,” jelasnya.

Senada dengan itu, Fadlyka Himmah Syahputra menilai buku karya Yulhasni menghadirkan perspektif yang objektif terhadap penyelenggaraan Pemilu 2024. “Buku ini menjadi ruang evaluasi bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi sebagai bahan pembelajaran agar penyelenggaraan Pemilu 2029 semakin profesional, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Lihat Juga : Kurang dari 24 Jam, Satreskrim Tapsel Bekuk Dua Pelaku Curat

Sementara itu, Robby Efendi menilai buku tersebut tak hanya sarat nilai akademik, tetapi juga relevan dengan kondisi demokrasi Indonesia saat ini. “Berbagai gagasan yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara Pemilu, akademisi, maupun masyarakat dalam memperkuat sistem demokrasi di Indonesia,” katanya.

Usai acara, para peserta menyampaikan apresiasi atas bedah buku ini yang dinilai mampu memperkaya literasi politik dan kepemiluan, sekaligus memantik lahirnya gagasan-gagasan konstruktif bagi penguatan demokrasi Tanah Air. Ketua KPU Kota Padangsidimpuan, Tagor Dumora Lubis, salah satunya, menilai kegiatan ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi demokrasi di tengah masyarakat.

“Pemilu bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga bagaimana kita menjaga hak konstitusional setiap warga negara dan memperkuat budaya demokrasi. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap lahir pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya pemilu yang berintegritas dan berkualitas,” ujarnya.(Galeh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

173 Warga Simarpinggan Dapat Pengobatan Gratis, Agincourt Resources Hadirkan Tiga Dokter Spesialis

Sidimpuanpos.com, TAPANULI SELATAN – Sebanyak 173 warga Desa Simarpinggan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mendapat pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This