Rabu, Oktober 14, 2026

Dari Desa Menuju Peradaban Islam Jalan Panjang Membangun Sumatera Utara

Must Read

Sidimpuanpos.com – Desa merupakan ujung tombak pembangunan nasional, termasuk di Provinsi Sumatera Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, desa-desa mulai bangkit berkat dukungan anggaran dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Berbagai strategi pemberdayaan pun mulai digalakkan. Salah satu inisiatif yang patut dicontoh adalah pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak distribusi ekonomi lokal menuju pemerataan.

Namun, pembangunan fisik saja tidak cukup. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) desa harus menjadi prioritas. Ini bisa dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah desa dengan perguruan tinggi dalam bentuk program Desa Binaan.

Baca Juga : Kejari Padangsidimpuan Edukasi Hukum Perundungan Kepada Siswa SMPN 4

Kepala desa harus aktif dan peduli terhadap penguatan usaha produktif yang bisa langsung membantu petani, peternak dan pelaku UMKM di wilayahnya. Pemerintah daerah pun perlu memberikan dukungan penuh untuk mempercepat kemajuan desa.

Pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan irigasi, harus dibarengi dengan pelatihan-pelatihan di bidang pertanian, peternakan dan kewirausahaan.

Pelatihan tidak hanya dipusatkan di kota, melainkan harus menyentuh desa-desa terpencil agar bisa menekan laju urbanisasi dan mencegah eksploitasi sumber daya alam secara tidak terkendali.

Dengan jumlah 5.417 desa di Sumatera Utara, tantangan memang tidak sedikit. Persoalan seperti kasus hukum perangkat desa, rendahnya penghasilan kepala desa dan anggota BPD, serta lemahnya fungsi kelembagaan desa masih menjadi hambatan serius. Padahal, dana desa melalui Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) berpotensi besar dalam mendorong kemandirian ekonomi desa.

Perangkat desa harus menjalin kerja sama erat dengan masyarakat adat yang memiliki hak-hak tradisional. Gagasan-gagasan konstruktif seperti desa wisata, desa pemula, desa persiapan, hingga desa mandiri perlu dihidupkan.

Setiap desa memiliki potensi masing-masing—baik di sektor pertanian, peternakan, maupun pariwisata. Pemerintah pusat harus terus mendukung agar desa-desa di Sumut dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Salah satu refleksi peradaban desa dapat ditemukan dalam kisah-kisah migrasi dan etos kerja yang kuat, seperti yang dicontohkan oleh etnis Minang.

Dalam sebuah diskusi antara penulis bersama Bapak Sudirman Chaniago, terungkap kisah keluarga Minang yang merantau dari Sungai Lundang, Sumatera Barat, ke Pulau Telo, Nias.

Karena kesulitan ekonomi, mereka menanam kelapa, menangkap ikan, dan mengolah sawah di tengah gangguan hama seperti monyet dan babi hutan. Meski menghadapi berbagai kesulitan, semangat pantang menyerah tetap tertanam kuat. Setelah generasi pertama wafat, keturunannya melanjutkan perantauan hingga ke Medan.

Lihat Juga : Polres Padangsidimpuan Tangkap Residivis Narkotika, Sabu 4,91 Gram Diamankan

Kini, mereka sukses sebagai pedagang, seperti menjual kerupuk jange dan tipang batieh, produk khas Minang yang banyak diminati. Pak Chaniago, misalnya, tetap berjualan di kawasan wisata Penangkaran Buaya Sunggal sejak 1987. Meski sempat terdampak pandemi COVID-19, beliau tetap berjuang demi keluarga, dibantu oleh sang istri yang menjadi tukang pijat.

Kisah seperti ini menjadi teladan bagi suku-suku lain di Sumatera Utara seperti Angkola, Batak Toba, Mandailing, Karo, Nias, Pakpak, Simalungun, Melayu, dan Jawa. Perpaduan etos kerja keras dan solidaritas sosial bisa menjadi fondasi membangun peradaban Islam dari desa.

Peradaban Islam dan Konteks Sosial Budaya

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam tidak diturunkan di ruang hampa, melainkan dalam konteks masyarakat yang kaya dengan nilai-nilai budaya dan sosial. Oleh karena itu, penyebaran ajaran Al-Qur’an selalu berhadapan dengan nilai-nilai lokal yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai dalam Al-Qur’an tidak hanya melampaui batas geografis, tetapi juga menembus dimensi kultural dan sosial. Di sinilah pentingnya pendekatan lokal dalam menerjemahkan dan mewujudkan ajaran Islam. Al-Qur’an mengisyaratkan terbentuknya masyarakat ideal, yaitu masyarakat utama yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar secara seimbang.

Di tengah tantangan global seperti individualisme, pragmatisme, dan sekularisme, kita dituntut untuk kembali merumuskan nilai-nilai masyarakat yang ideal dengan berpijak pada petunjuk Al-Qur’an.

Masyarakat desa yang berkarakter Islami bisa menjadi pelopor lahirnya peradaban baru yang berkeadaban, mandiri, dan berkeunggulan.

Baca Juga : Wabup Madina Sidak Kesiapan RSUD Panyabungan, Juni 2025 Siap Dioperasikan

Untuk itu, mari kita bangun peradaban Islam dari desa bukan hanya dengan membangun fisik, tetapi juga melalui penguatan karakter, akhlak, dan spiritualitas masyarakat.

Pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian nilai-nilai luhur budaya lokal harus berjalan beriringan. Dengan demikian, masyarakat Sumatera Utara dapat melangkah maju menuju kesejahteraan yang hakiki. **

Oleh: Dr. Suheri Harahap, M.Si
Dosen Sosiologi Agama FIS UIN Sumatera Utara Medan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This