Selasa, Oktober 13, 2026

Gus Irawan Dorong Sanusi Pane Jadi Pahlawan Nasional, Warisan Bahasa dan Sastra Indonesia Kembali Diangkat

Must Read

Sidimpuanpos.com, TAPANULI SELATAN – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), H. Gus Irawan Pasaribu, mengungkap jejak intelektual Sanusi Pane yang dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan bahasa Indonesia, sastra, kebudayaan, hingga perjuangan membangun persatuan bangsa.

Hal itu disampaikan Gus Irawan saat menjadi narasumber dalam siaran kebahasaan TVRI Sumatera Utara (Sumut) bertajuk “Sanusi Pane: Penggerak Bahasa Indonesia”, yang digelar Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara bersama TVRI Sumut di Studio TVRI Sumut, Jalan Putri Hijau, Medan, Kamis (8/10/2026).

Dalam dialog yang dipandu Gina Febriana tersebut, Gus Irawan mengatakan Sanusi Pane bukan sekadar sastrawan, tetapi juga sosok intelektual yang pemikirannya melampaui batas daerah, suku, generasi, dan zaman.

Menurutnya, Sanusi Pane tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi intelektual dan literasi kuat. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, dikenal sebagai tokoh pergerakan, sastrawan daerah, sekaligus redaktur surat kabar Poestaha. Sementara itu, Sanusi Pane dan adiknya, Armijn Pane, menjadi tokoh penting dalam perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia.

Baca Juga: MUI dan KNPI Dukung Polres Padangsidimpuan Berantas Narkoba, Minta Pelaku Ditindak Tegas

“Keluarga Pane ini bisa dibilang adalah dinasti literasi awal di tanah Batak dan Indonesia. Sanusi dan Armijn tidak tumbuh di ruang hampa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menghargai teks, diskusi, dan kebudayaan. Bagi kami di Tapsel, ini adalah warisan yang harus terus dihidupkan,” ujar Gus Irawan.

Ia mengatakan, warisan intelektual tersebut harus diwujudkan melalui gerakan nyata, terutama di kalangan generasi muda.

Pemkab Tapsel, lanjutnya, terus mendorong penguatan taman bacaan, festival literasi daerah, serta pengembangan muatan lokal di sekolah agar generasi muda mengenal sejarah panjang Tapsel dan kawasan Tapanuli dalam melahirkan pemikir serta pejuang kebudayaan.

Dalam dialog tersebut, Gus Irawan juga menyoroti peran Sanusi Pane dalam sejarah bahasa Indonesia yang dinilainya lebih besar daripada sekadar sebagai sastrawan.

Sanusi Pane disebut turut memberikan kontribusi penting dalam perdebatan mengenai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda I tahun 1926. Persetujuannya terhadap gagasan bahasa Indonesia menjadi bagian dari proses intelektual yang kemudian mengantarkan bangsa Indonesia menuju Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Sanusi Pane juga disebut mengusulkan istilah “Kebulatan Tekad Pemuda” untuk menggambarkan cita-cita persatuan dalam satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

“Beliau tidak terjebak pada ego kesukuan, meskipun sangat mencintai budayanya. Beliau melihat Indonesia dalam perspektif yang jauh lebih luas. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa kecintaan terhadap daerah justru harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia,” katanya.

Selain aktif dalam dunia sastra, Sanusi Pane juga berkecimpung di dunia pers. Ia pernah menjadi redaktur majalah Timboel dan mendorong penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.

Ia juga terlibat dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada 1938. Dalam kongres tersebut, Sanusi Pane menyampaikan prasaran mengenai sejarah bahasa Indonesia serta gagasan tentang perlunya lembaga khusus untuk mengembangkan bahasa Indonesia.

Lihat Juga: Sinergi TNI dan Pemko, Jembatan Aek Sibontor Padangsidimpuan Rampung untuk Pulihkan Akses Warga

Gus Irawan kemudian mengungkapkan bahwa perjuangan mendorong Sanusi Pane menjadi Pahlawan Nasional bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Aspirasi tersebut berkembang dari masyarakat, khususnya kalangan pemuda Tapsel.

Ia menyebut salah satu momentum penting terjadi pada 8 Oktober 2025, ketika organisasi kepemudaan mendeklarasikan dukungan sekaligus menyampaikan permohonan agar Sanusi Pane diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

Aspirasi itu kembali mengemuka pada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025 dan berlanjut melalui berbagai kegiatan di Tapsel.

Dukungan tersebut kembali disuarakan pada Juli 2026 dalam kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU). Saat itu, Gus Irawan bersama tokoh masyarakat kembali mendeklarasikan dukungan terhadap pengusulan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional.

Menurutnya, pengusulan tersebut didasarkan pada jasa Sanusi Pane dalam memperkuat persatuan bangsa melalui bahasa Indonesia.

Gus Irawan mengakui bahwa pengusulan seorang tokoh menjadi Pahlawan Nasional membutuhkan dokumentasi dan kajian sejarah yang kuat. Karena itu, Pemkab Tapsel berkoordinasi dengan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara untuk mengumpulkan berbagai dokumen yang dapat memperkuat usulan tersebut.

Ia berharap proses pengumpulan dokumen dan penguatan kajian sejarah dapat terus berjalan hingga usulan tersebut siap diajukan secara formal.

Gus Irawan juga menyoroti nilai keteladanan yang diwariskan Sanusi Pane, terutama mengenai integritas dan pengabdian kepada bangsa.

Ia menyebut Sanusi Pane pernah menolak penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Soekarno karena merasa bahwa apa yang dilakukannya merupakan kewajiban sebagai anak bangsa.

Menurut Gus Irawan, sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi sekarang bahwa perjuangan dan pengabdian tidak semestinya berorientasi pada penghargaan.

Selain itu, Gus Irawan menilai pemikiran Sanusi Pane tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan budaya komunikasi. Sanusi Pane merupakan sastrawan, budayawan, dramawan, penulis, sekaligus pendidik yang menjadikan persatuan sebagai bagian penting dari perjuangannya.

Baca Juga: Wabup Jafar Syahbuddin Tegaskan Pemulihan Pascabencana Tapsel Harus Utamakan Hak Anak dan Masa Depan Mereka

Di tengah dominasi bahasa asing, bahasa slang, dan derasnya arus media sosial, ia mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia.

Menurutnya, jika dahulu Sanusi Pane menggunakan majalah dan surat kabar sebagai media pergerakan, generasi muda saat ini dapat memanfaatkan TikTok, Instagram, dan YouTube untuk memperkenalkan bahasa, sastra, serta budaya daerah kepada dunia.

Pemkab Tapsel juga mendorong agar karya Sanusi Pane tidak berhenti sebagai bahan kajian akademis. Karya seperti Manusia Baru dan puisi-puisinya dapat diperkenalkan melalui musikalisasi puisi, pementasan teater, kegiatan Bulan Bahasa, maupun peringatan Sumpah Pemuda.

Selain itu, Pemkab Tapsel mendorong penyusunan buku saku digital atau e-book mengenai tokoh-tokoh literasi Tapanuli yang dapat diakses secara gratis oleh pelajar.

Dalam dialog tersebut turut dibahas jejak historis keluarga Pane di kawasan Kabupaten Tapsel. Secara administratif saat ini, tempat kelahiran Sanusi Pane di Muara Sipongi berada di Kabupaten Mandailing Natal. Wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan Tapsel sebelum pemekaran.

Sementara itu, akar kultural Angkola-Mandailing dan jejak intelektual keluarga Pane memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah kawasan Tapanuli.

Gus Irawan menyebut keberadaan Perpustakaan Lafran Pane di Desa Pangurabaan, Kecamatan Sipirok, menjadi salah satu bagian penting dalam merawat tradisi literasi dan sejarah intelektual daerah. Ia mendorong sejarawan dan akademisi lokal terus melakukan penelitian terhadap hubungan genealogis, budaya, dan sejarah keluarga Pane agar generasi muda memahami akar sejarahnya secara lebih utuh.

Sementara itu, Penerjemah Ahli Madya Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Yolferi, yang turut menjadi narasumber, menilai Sanusi Pane merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah bahasa persatuan Indonesia.

Menurutnya, kontribusi Sanusi Pane tidak hanya dalam bidang sastra, tetapi juga sebagai pemikir kebudayaan dan bahasa. Yolferi turut menjelaskan posisi Sanusi Pane dalam Polemik Kebudayaan pada dekade 1930-an, ketika pemikirannya berhadapan dengan gagasan Sutan Takdir Alisjahbana.

Jika Sutan Takdir lebih menekankan orientasi modernitas Barat, Sanusi Pane mempertahankan pentingnya akar kebudayaan Timur sebagai bagian dari pembangunan identitas Indonesia.

Yolferi mengatakan, salah satu tantangan dalam proses pengkajian pemikiran Sanusi Pane adalah menemukan dan mengamankan dokumen primer yang tersebar di surat kabar dan majalah lama, termasuk sejumlah publikasi yang tersimpan di luar negeri. Sebagian dokumen tersebut sudah dalam kondisi rapuh sehingga membutuhkan proses transkripsi dan kajian kembali.

Dalam dialog tersebut hadir Kepala Stasiun TVRI Medan Budy Kurniawan, Kepala Dinas Perpustakaan Tapsel Hamonangan Harahap, serta jajaran Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.(wan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

Polres Padangsidimpuan Dukung Ketahanan Pangan, 1,9 Ton Jagung Diserap Bulog

Sidimpuanpos.com, PADANGSIDIMPUAN– Polres Padangsidimpuan terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Sebanyak 1,9 ton atau 1.900 kilogram...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This