Rabu, Oktober 14, 2026

Jejak Syekh Zainal Abidin di Masjid Tertua Padangsidimpuan

Must Read

Sidimpuanpos.com – Di tengah modernisasi Kota Padangsidimpuan, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu awal mula penyebaran Islam di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (29/01/2026).

Terletak di Desa Pudun Jae (Pudun Julu), Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Masjid Syekh Zainal Abidin tercatat sebagai masjid tertua di Kota Padangsidimpuan ini, menyimpan sejarah yang sarat akan keajaiban dan filosofi tauhid.

Berdasarkan catatan sejarah dan tutur lisan masyarakat setempat, masjid ini didirikan sekitar tahun 1880 oleh seorang ulama besar bernama Syekh Zainal Abidin Harahap.

Baca Juga : Revitalisasi Masjid Raya Al-Abror Dongkrak Wisata dan UMKM Padangsidimpuan

Beliau adalah putra daerah yang menimba ilmu bertahun-tahun di Banten hingga ke Makkah sebelum kembali ke tanah kelahirannya pada usia 40 tahun.

Hal yang paling fenomenal dari masjid ini adalah proses pembangunannya. Konon, masjid ini dikerjakan secara gotong royong oleh sekitar 50 orang murid Syekh Zainal Abidin dan selesai hanya dalam waktu 24 jam atau satu malam saja. Meski terdengar mustahil secara logika modern, masyarakat meyakini adanya karamah dan keberkahan yang menyertai kerja keras para pendahulu tersebut.

Keunikan arsitektur masjid ini terletak pada teknik konstruksinya. Pada masa itu, semen belum dikenal di wilayah ini. Sebagai pengganti, dinding masjid yang tebalnya mencapai 60 sentimeter ini dibangun menggunakan campuran tanah liat, putih telur ayam, batu, dan tanah kapur.

Setiap sudut Masjid Syekh Zainal Abidin dirancang dengan makna mendalam. Salah satu ciri khasnya adalah pintu masuk yang dibuat lebih rendah dari tinggi rata-rata orang dewasa.

Hal ini memiliki pesan filosofis bahwa siapa pun yang masuk ke dalam rumah Allah harus menundukkan kepala dan hatinya—sebuah simbol kerendahan hati dan ketundukan total kepada Sang Pencipta.

Di dinding bagian dalam, terukir nama 25 Nabi dan Rasul, mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW, sebagai pengingat akan silsilah perjuangan dakwah Islam.

Tak jauh dari lokasi masjid, di pinggir Sungai Pudun, dahulu terdapat batu yang diukir menyerupai sajadah, tempat Syekh Zainal Abidin sering melakukan khalwat atau menyendiri untuk beribadah.

Lihat Juga : Jelang Ramadhan, Harga Sembako di Pasar Tanjung Botung Masih Stabil

Kini, Masjid Syekh Zainal Abidin telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Padangsidimpuan sebagai Cagar Budaya melalui Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2014. Selain menjadi tempat ibadah rutin, masjid ini menjadi magnet bagi wisatawan religi dan sejarawan yang ingin merasakan atmosfer spiritual masa lampau.

Hingga wafatnya pada tahun 1903, Syekh Zainal Abidin tidak hanya meninggalkan sebuah bangunan fisik, tetapi juga warisan tarekat Naqsabandiyah yang hingga kini masih diamalkan oleh pengikutnya. Makam beliau yang terletak tak jauh dari masjid pun selalu ramai diziarahi, terutama menjelang bulan suci Ramadhan.(Dani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This