Sidimpuanpos.com – Matahari siang itu terasa cukup terik, namun langkah jamaah tetap mengalir memasuki Masjid Raya Al-Abror, Senin (9/3/2026).
Memasuki awal pekan kedua Ramadhan 1447 Hijriyah, suasana masjid tampak hidup. Usai menunaikan salat Dzuhur, para jamaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka memilih tetap duduk rapi, menanti dimulainya kajian rutin Ba’da Dzuhur yang sudah menjadi bagian dari tradisi Ramadhan di masjid tersebut.
Siang itu, kajian menghadirkan penceramah senior, Ustadz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, M.A. Dengan suara yang tegas namun penuh khidmat, ia membuka tausiyah dengan mengangkat tema “Spirit Perang Badar.” Tema yang mengajak jamaah menengok kembali sejarah besar Islam yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
Baca Juga : Pemko Padangsidimpuan Upayakan Lahan Huntap bagi 1.200 KK Korban Bencana
Di hadapan ratusan jamaah, Ustadz Zulfan mengisahkan bagaimana kaum Muslimin saat itu menghadapi pasukan yang jauh lebih besar. Namun kemenangan tetap diraih, bukan karena kekuatan jumlah ataupun persenjataan.
“Perang Badar mengajarkan kita bahwa keterbatasan fisik saat berpuasa bukanlah alasan untuk lemah. Justru di bulan Ramadhan inilah kekuatan spiritual kita berada di puncaknya. Spirit Badar adalah tentang integritas, disiplin, dan kepercayaan penuh kepada janji Allah,” tegasnya.
Cerita sejarah yang disampaikan dengan penuh semangat itu membuat jamaah larut dalam suasana. Beberapa terlihat mengangguk pelan, sementara yang lain menyimak dengan wajah serius.
Bagi Mukhlis (39), seorang karyawan swasta yang turut hadir, kisah tersebut terasa seperti tamparan yang menyadarkan.
“Seringkali kita merasa lemas saat bekerja di bulan puasa. Tapi mendengar kisah Perang Badar tadi, saya merasa malu. Para sahabat dulu berperang dalam kondisi puasa, sementara kita hanya bekerja kantoran. Ini benar-benar memicu semangat saya untuk tetap produktif,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan Ananda Rizky (21), seorang mahasiswa yang datang bersama beberapa temannya. Ia menilai pesan yang disampaikan sangat relevan bagi anak muda.
Lihat Juga : Jalan H. Ihutan Ritonga Rusak, Warga Khawatirkan Keselamatan
“Ustadz Zulfan tadi menjelaskan kalau musuh terbesar adalah diri sendiri. Spirit Perang Badar mendidik saya untuk tidak gampang menyerah pada keadaan. Sangat memotivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kuliah saya di bulan ini,” tuturnya.
Kajian berakhir menjelang waktu Ashar. Perlahan jamaah mulai berdiri dan meninggalkan masjid, namun semangat yang ditinggalkan dari kisah Badar siang itu terasa masih melekat.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kajian Ba’da Dzuhur di Masjid Raya Al-Abror kembali menjadi ruang bagi masyarakat Padangsidimpuan untuk menenangkan hati, sekaligus menyalakan kembali semangat perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.(dani)


