Sidimpuanpos.com – Deretan karya tangan anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) di Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026 sukses mencuri perhatian pengunjung. Dari kain songket hingga aneka kerajinan tangan, setiap hasil karya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi.
Kepala Dinas Pendidikan Sumut Alexander Sinulingga melalui Kepala Bidang SLB, Edy Junianto, mengatakan salah satu produk yang paling diminati adalah songket khas Batu Bara yang ditenun langsung oleh siswa-siswi tuna rungu. Empat pelajar terlibat dalam proses pembuatannya dengan penuh ketelitian hingga menghasilkan kain berkualitas tinggi.
Songket tersebut dipasarkan seharga Rp450 ribu untuk bahan pakaian dan Rp550 ribu jika dilengkapi selendang. Selama PRSU berlangsung, empat lembar songket telah terjual. Menurut Edy, nilai sebenarnya dari karya itu bukan hanya terletak pada kainnya, tetapi pada kesabaran, ketekunan, dan proses panjang yang dilalui para siswa.
Baca Juga : RRI Sibolga Siap Promosikan Potensi Padangsidimpuan
Kepala SLB Negeri Batu Bara, Siti Maryam, menjelaskan kreativitas siswa tidak hanya berhenti pada tenun songket. Pengunjung juga dapat menemukan keranjang dari kertas daur ulang seharga Rp50 ribu, tandok mulai Rp10 ribu, hingga berbagai produk jahitan hasil karya siswa tuna rungu.
Sementara itu, siswa tuna grahita memproduksi keset yang dijual sekitar Rp17 ribu, sedangkan siswa tuna daksa terus mengembangkan keterampilan sesuai potensi masing-masing. Sebagian dari mereka bahkan aktif mengikuti pembinaan olahraga melalui National Paralympic Committee (NPC).
Saat ini, SLB Negeri Batu Bara membina sekitar 200 siswa dengan berbagai kebutuhan khusus, termasuk tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, dan sekitar delapan siswa autis. Pada tahun ajaran 2026, sekolah tersebut menerima 32 siswa baru yang didominasi anak tuna grahita, tuna rungu, dan autis.
Lihat Juga : Kantah-Pemko Padangsidimpuan Perkuat Koordinasi Pembangunan
Menurut Siti Maryam, SLB bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang yang memberi kesempatan bagi setiap anak untuk tumbuh, mandiri, dan mengembangkan bakatnya. Kehadiran Hall Disdik Sumut di PRSU pun menjadi panggung bagi mereka untuk menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas.
Melalui karya-karya yang dipamerkan, para siswa menyampaikan pesan sederhana namun kuat: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Yang dibutuhkan adalah kesempatan, dukungan, dan apresiasi agar setiap potensi dapat berkembang dan memberi inspirasi bagi banyak orang.(Ali)


