Selasa, Oktober 13, 2026

Riset Mikoriza Jadi Kunci Keberhasilan Reklamasi Lahan PTAR

Must Read

Sidimpuanpos.com – Reklamasi lahan pascatambang yang dilakukan PT Agincourt Resources (PTAR) tidak sekadar menanam kembali vegetasi begitu saja. Sebelum bibit sampai ke lapangan, ada tahapan panjang berupa penelitian dan pembibitan untuk memastikan setiap tanaman memiliki kualitas serta daya tumbuh yang optimal.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan PTAR adalah pemanfaatan mikoriza—fungi yang bersimbiosis dengan akar tanaman dan membantu penyerapan air serta unsur hara dari media tumbuh—melalui riset di Laboratorium Mikoriza dan proses pembibitan di nursery.

Di laboratorium, penelitian dilakukan bertahap. Tim peneliti memberi perlakuan pada tanaman, lalu mengamati responsnya, mulai dari perkembangan akar, kondisi media tanam, hingga reaksi tanaman usai diberi mikoriza. Hasil riset ini kemudian menjadi dasar bagi proses pembibitan di nursery sebelum tanaman siap dipindahkan ke lapangan.

Research Assistant di laboratorium nursery, Lutfi Hanafi, menjelaskan bahwa setiap jenis tanaman memberikan respons berbeda terhadap perlakuan mikoriza, sehingga tim tidak bisa menerapkan satu metode yang sama untuk semua jenis tanaman.

Baca Juga : Pelaku Penikaman Warga Semeteh Mura Menyerahkan Diri

“Penelitian ini membantu kita memahami perlakuan yang paling sesuai sehingga tanaman yang nantinya dibawa ke lapangan sudah memiliki kondisi yang lebih siap,” kata Lutfi, Jumat (21/8/2026).

Ia menambahkan, proses di laboratorium tak berhenti pada pengamatan mikoriza semata, melainkan berlanjut ke tahap pembibitan di nursery, tempat bibit dirawat dan dipantau pertumbuhannya sebelum dipindahkan ke lokasi penanaman. “Tahapan ini penting karena tanaman yang akan digunakan untuk konservasi harus mampu menghadapi kondisi lingkungan ketika berada di luar lingkungan pembibitan,” ujarnya.

Menurutnya, data yang dikumpulkan dari berbagai tahap pengamatan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan perlakuan paling tepat bagi tiap tanaman. “Yang kami lihat bukan hanya apakah mikorizanya ada atau tidak, tetapi bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Mulai dari perkembangan akar, pertumbuhan tanaman sampai kemampuan beradaptasi dengan media tanam,” tegasnya.

Senada, Ikhsannul Amal mengungkapkan penelitian mikoriza bertujuan mengukur sejauh mana fungi tersebut mampu mendukung pertumbuhan tanaman. Setelah diberi perlakuan mikoriza, tanaman tak lantas dilepas begitu saja, melainkan terus dipantau secara berkala selama berada di nursery.

“Tahap pengawasan ini menjadi penting sebelum tanaman dipindahkan ke lokasi konservasi atau area reklamasi. Bibit yang baik bukan hanya bibit yang tumbuh besar di nursery, tetapi bibit yang memiliki kondisi sehat dan cukup siap menghadapi perubahan lingkungan ketika ditanam di lapangan,” jelasnya.

Ikhsannul menuturkan, pengawasan dilakukan untuk mengamati respons tanaman pascainokulasi mikoriza, mencakup pertumbuhan, kondisi daun, batang, hingga perkembangan akar. “Tidak semua tanaman memberikan respons yang sama. Karena itu, pengamatan dilakukan secara rutin untuk membandingkan pertumbuhan tanaman yang mendapatkan perlakuan mikoriza dengan tanaman pembanding. Dari proses tersebut, tim dapat mengevaluasi efektivitas perlakuan yang diberikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Yuna Ratna Wulansari menyebut penelitian mikoriza sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang saling terkait antara laboratorium, nursery, dan lapangan. Hasil riset akan terus dievaluasi dan dikaitkan dengan perkembangan tanaman, baik di nursery maupun setelah ditanam di lapangan. “Penelitian mikoriza ini pada akhirnya harus memberikan manfaat untuk konservasi. Apa yang kami kerjakan di laboratorium tidak berdiri sendiri,” ujar Yuna.

Lihat Juga : AC dan Genset Raib, Pelaku Ternyata Orang yang Dikenal Korban

Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PTAR, Syaiful Anwar, menerangkan bahwa riset mikoriza merupakan salah satu langkah memperkuat kualitas tanaman sejak tahap awal, sekaligus bagian dari pendekatan perusahaan dalam mengelola biodiversitas. “Konservasi itu bukan hanya bagaimana kita menanam pohon, tetapi bagaimana tanaman yang kita tanam bisa tumbuh, berkembang dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan,” katanya.

Berdasarkan data 2025, PTAR telah merampungkan reklamasi lahan seluas lebih dari 53,92 hektare, dari total area sekitar 1.985 hektare. Perusahaan menargetkan reklamasi lebih dari 500 hektare hingga 2030, dengan memadukan pemilihan tanaman lokal, penggunaan tanaman cepat tumbuh, dan pengembangan mikoriza guna mendukung keberhasilan tumbuhnya vegetasi di area bekas tambang.

Syaiful menambahkan, meski target restorasi berlangsung sejak 2025 hingga 2030, angka 500 hektare tersebut berada di luar area longsor. Sebab, pascabencana longsor, terdapat penambahan titik lahan yang juga harus direstorasi.

“Target akhirnya bukan sekadar lahan terlihat hijau, tetapi bagaimana fungsi ekologisnya secara bertahap bisa pulih. Untuk mencapai itu, kita membutuhkan bibit yang baik, penelitian, teknologi dan monitoring yang berkelanjutan,” tutup Syaiful.(Galeh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

173 Warga Simarpinggan Dapat Pengobatan Gratis, Agincourt Resources Hadirkan Tiga Dokter Spesialis

Sidimpuanpos.com, TAPANULI SELATAN – Sebanyak 173 warga Desa Simarpinggan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mendapat pelayanan pemeriksaan dan pengobatan gratis...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This