Rabu, Oktober 14, 2026

RRI-SMSI Bahas Strategi Jurnalis Hadapi Disinformasi

Must Read

Sidimpuanpos.com – Derasnya arus informasi digital memaksa dunia jurnalistik untuk terus menyesuaikan diri. Kini, seorang jurnalis dituntut tak sekadar pandai menulis berita, tetapi juga cakap mengolah berbagai format konten, teliti dalam memverifikasi fakta, hingga memahami pola perilaku audiens di ruang digital.

Isu tersebut mengemuka dalam Diskusi Panel Pengembangan Kompetensi Jurnalistik yang digelar Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) pada 21 Agustus 2026.

Dalam forum itu, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, M.Si., menegaskan pentingnya sinergi antara RRI dan ekosistem media siber nasional dalam menangkal disinformasi sekaligus merawat ruang publik yang sehat. Baginya, pertemuan antara media penyiaran publik dan media siber bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kedaulatan informasi bangsa.

Baca Juga : Kasus Korupsi Pasar Panyabungan Mandek, Kejari Madina Disorot

Kompleksitas kerja jurnalistik di era digital menuntut wartawan menguasai lebih dari sekadar keterampilan menulis. Baik jurnalis RRI maupun awak media siber kini harus akrab dengan produksi audio, video, fotografi, pengolahan data, hingga teknologi peliputan lewat perangkat bergerak.

Firdaus memaparkan empat kompetensi utama yang menurutnya perlu terus diasah.

Yang pertama adalah etika jurnalistik yang dikukuhkan lewat Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Sertifikasi ini, katanya, menjadi jaminan bahwa seorang wartawan benar-benar profesional, independen, berintegritas, dan taat pada Kode Etik Jurnalistik.

Kedua, penguasaan Mobile Journalism atau MoJo — kemampuan meliput menggunakan smartphone, mulai dari memotret, merekam audio berkualitas, hingga memproduksi video berita secara mandiri.

Ketiga, kecakapan fact-checking. Jurnalis harus terampil memeriksa kebenaran data dan memanfaatkan perangkat investigasi digital agar informasi yang sampai ke publik bersih dari hoaks dan manipulasi.

Keempat, pemahaman digital analytics dan GEO, yakni kemampuan membaca kebiasaan audiens sekaligus mengoptimalkan penyebaran berita di ekosistem digital.

Meski demikian, Firdaus mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tak boleh mengorbankan mutu jurnalistik itu sendiri.

“Kolaborasi RRI dan SMSI menjadi kunci penjaga kebenaran atau truth enforcer nasional,” ujarnya.

RRI dikenal sebagai lembaga penyiaran publik berbasis audio dan multiplatform yang jangkauannya menembus pelosok negeri, termasuk wilayah perbatasan. Di sisi lain, SMSI berdiri sebagai konstituen Dewan Pers yang menaungi ribuan perusahaan media siber di berbagai daerah.

Perpaduan jaringan penyiaran publik RRI dengan kekuatan media siber SMSI di tingkat lokal dinilai mampu memperluas jangkauan informasi sekaligus mendongkrak kualitas pemberitaan dari daerah ke tingkat nasional.

Firdaus turut menguraikan beberapa langkah konkret kolaborasi yang bisa direalisasikan RRI bersama SMSI, di antaranya penyelenggaraan UKW bagi wartawan anggota SMSI, pencetakan penguji UKW melalui Training of Trainer (ToT), serta pembaruan materi UKW agar selaras dengan kebutuhan jurnalistik terkini.

Lihat Juga : Ketika Timur Tumanggor Memacu Impian Bobby Nasution dari Desa

Selain itu, penguatan newsroom di tubuh RRI dan SMSI juga menjadi fokus kerja sama. Harapannya, langkah ini tak hanya mengasah kompetensi wartawan, tetapi juga memperkuat arus informasi pembangunan serta mengangkat suara dan potensi daerah ke panggung penyiaran publik nasional.

Bagi Firdaus, tantangan media saat ini bukan lagi soal berebut perhatian audiens, melainkan bagaimana memastikan masyarakat mendapat informasi yang benar, terverifikasi, dan berkualitas di tengah derasnya arus media sosial. Karena itulah, sinergi antara media penyiaran publik dan media siber dipandang krusial dalam membangun ekosistem informasi nasional yang sehat.

“Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang kompeten dan perusahaan media yang sehat. Kolaborasi LPP RRI dan SMSI adalah kunci utama menjaga kedaulatan informasi serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkas Firdaus.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas jurnalis sekaligus membuka akses lebih luas bagi masyarakat terhadap informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.(Ali)

Sumber : topmetronews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This