Rabu, Oktober 14, 2026

Candi Bahal Saksi Bisu Peradaban Hindu-Budha di Tabagsel, Kini Perlu Perhatian dari Pemerintah

Must Read

Sidimpuanpos.com – Candi Bahal I, II, III dan Candi Pulo yang terletak di Kecamatan Portibi, Padang Lawas Utara (Paluta), menjadi saksi bisu peradaban Hindu-Buddha yang pernah berkembang pesat di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Tempat-tempat ini menyimpan nilai sejarah yang sangat signifikan, terutama dalam menelusuri jejak awal kedatangan agama Hindu ke Sumatera melalui interaksi perdagangan antara pelabuhan Barus dan daerah pedalaman Paluta.

Menariknya, dalam penelitian arkeologis di Situs Bongal (Sibolga), ditemukan lempengan uang yang memiliki tulisan aksara Arab, yang diperkirakan lebih tua daripada makam para ulama di Barus.

Baca Juga : Danramil 05/Midai dan Anggota Laksanakan Komsos dengan Melayat ke Rumah Duka Warga

Hal ini menunjukkan adanya interaksi awal antara Islam dan Hindu di daerah tersebut, yang membuka peluang untuk studi lintas budaya dan keagamaan yang masih sangat terbuka untuk penelitian lebih lanjut.

Dr. Suheri Harahap, M.Si, seorang dosen di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), saat mengunjungi beberapa candi di Padang Lawas Utara baru-baru ini, menyampaikan bahwa warisan sejarah ini, yaitu Candi Bahal I, II, III, dan Candi Pulo, kini menghadapi berbagai tantangan besar.

Sejumlah bangunan dan situs bersejarah ini berada dalam ancaman kerusakan atau bahkan kemungkinan runtuh. Oleh sebab itu, sangat penting bagi semua pihak untuk melindungi dan merawat warisan peradaban masa lalu yang masih ada hingga saat ini.

” Salah satu pertanyaan penting yang muncul adalah bagaimana peran masyarakat dalam melestarikan Candi-Candi ini?. Bagaimana pula dampak kehadiran Candi ini terhadap perekonomian masyarakat, ” kata Suheri, dalam perbincangannya dengan media, Sabtu (17/5/2025)

Kita berharap, akan lahir mindset baru dalam mengelola situs ini sebagai destinasi wisata unggulan sekaligus pusat ekonomi berbasis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di sekitar kawasan Candi.

” Juga, besar harapan kepada Pemprovsu Gubernur Sumatera Utara, Bapak M. Bobby Afif Nasution, dapat mendorong Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara mempromosikan Candi Bahal hingga ke pentas internasional, ” katanya.

Selain itu, diperlukan adanya acara tahunan resmi yang diselenggarakan oleh Pemprov Sumut, serta keterlibatan langsung dari Kementerian Pariwisata untuk mendorong pengembangan potensi pariwisata sejarah ini.

” Ke depan juga, perlu dilakukan perluasan kawasan wisata, pembangunan hotel, homestay, fasilitas perkemahan, serta infrastruktur pendukung lainnya, ” ujarnya

Ia berpendapat bahwa Aparatur Desa Bahal dan Portibi perlu bekerja sama agar kehadiran Candi Bahal dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Terlebih lagi, saat ini Candi Bahal juga berfungsi sebagai tempat ibadah dan tujuan wisata religi bagi umat Buddha, khususnya dari etnis Tionghoa yang berasal dari berbagai negara. Ini merupakan kesempatan besar bagi Paluta untuk menjadi destinasi ‘Heritage Tourism’ yang diakui secara internasional.

Namun, potensi ini tidak akan berkembang secara optimal tanpa dukungan dari kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pembinaan bagi masyarakat desa agar mereka lebih memahami pentingnya pariwisata dan bersikap ramah terhadap para wisatawan.

Diharapkan agar pemuda desa tidak terlibat dalam perilaku yang mengganggu, seperti minum alkohol yang dapat mengganggu kenyamanan para pengunjung. Sebaliknya, masyarakat Paluta seharusnya dapat berperan sebagai tuan rumah yang bersahabat, menyambut wisatawan dengan senyuman, dan berkontribusi dalam penggerakan ekonomi.

” Ini adalah ‘Kampung Dollar’ yang selama ini belum dikelola dengan baik, namun butuh-tangan dingin’ untuk menghidupkan kembali warisan budaya agar tidak terlupakan, ” tuturnya

Ia juga mendorong pembangunan SDM desa harus menjadi fokus utama. Berbagai perguruan tinggi di Tabagsel, seperti UIN Syahada atau STAIN Madina, dapat membuka kampus cabang di Paluta, dengan membuka Program Studi Arkeologi.

” Ini akan mendorong riset-riset lokal serta pengabdian masyarakat yang berkelanjutan, ” harapnya.

Selain itu, peran aktif civitas akademika di Tabagsel sangat dibutuhkan untuk mengkolaborasikan program-program strategis pemerintah pusat di era Prabowo-Gibran agar benar-benar menyentuh desa-desa, khususnya dalam pengembangan Candi Bahal.

Lihat Juga : Blue Light Patrol, Polres Samosir Pastikan Kamtibmas Terjaga

Dengan dukungan dari seluruh elemen pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pelaku wisata Candi Bahal dan kawasan Portibi akan menjadi ikon kebangkitan pariwisata sejarah di Sumatera Utara.

” Warisan peradaban masa lalu ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dikelola dan diwariskan sebagai sumber kebanggaan dan kesejahteraan generasi masa depan, ” tutupnya. (Adi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This