Sidimpuanpos.com – Pagi itu, ratusan siswa SMA Negeri 8 Padangsidimpuan mendapat suntikan motivasi dari sosok yang perjalanan hidupnya tak biasa. Dalam program rutin Goes to School yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) Padangsidimpuan, Selasa (28/7/2026), Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan FTIK, Dr. Suparni, S.Si., M.Pd., membagikan kisah hidupnya sebagai anak petani yang kini menjadi dosen sekaligus pejabat kampus.
Kegiatan yang rutin digelar setiap Selasa pagi ini memang dirancang untuk menumbuhkan semangat pelajar sekaligus mengenalkan dunia pendidikan tinggi kepada siswa SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Kehadiran rombongan FTIK disambut hangat oleh Kepala Sekolah Panaekan Siregar, S.Pd., para guru, dan siswa yang mengikuti apel pagi.
Panaekan Siregar mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini membuka wawasan baru sekaligus membakar semangat siswa untuk melanjutkan pendidikan. “Kegiatan seperti ini sangat berharga bagi siswa kami. Pesan bahwa latar belakang bukan penentu masa depan memberi semangat luar biasa. Harapan kami, kolaborasi ini terus berlanjut dan membuka wawasan siswa tentang peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang bermutu,” ujarnya.
Baca Juga : Gubernur Bobby Dorong BPJS Kesehatan bagi Mitra Gojek Diperkuat
Dari Sawah ke Ruang Kuliah
Di hadapan para siswa, Dr. Suparni mengenang masa remajanya sekitar 35 tahun silam—saat itu ia belum punya cita-cita jelas dan sepulang sekolah selalu membantu orang tuanya bekerja di sawah. “Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa, tetapi kita bisa memilih akan menjadi orang seperti apa,” tegasnya.
Ia menekankan, kondisi ekonomi keluarga bukan penentu utama keberhasilan seseorang. Yang lebih menentukan adalah kemauan belajar, kerja keras, doa, serta bakti kepada orang tua. “Saya berdiri di hadapan kalian sebagai dosen dan Wakil Dekan bukan karena berasal dari keluarga kaya, melainkan karena pendidikan yang saya tempuh dengan dukungan doa orang tua,” ungkapnya.
Dr. Suparni juga mengajak para siswa untuk bangga menjadi anak petani, mengingat peran besar profesi ini dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga sarana membentuk karakter, kedisiplinan, cara berpikir kritis, jiwa kepemimpinan, dan tanggung jawab.
Kuliah Tetap Relevan di Era Digital
Menjawab keraguan yang kerap muncul di kalangan anak muda soal relevansi kuliah di tengah kemudahan akses informasi lewat internet, Dr. Suparni menegaskan bahwa perguruan tinggi tetap memegang peran penting dalam membentuk karakter dan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Lihat Juga : Posyandu di Paluta Kini Layani 6 Bidang Standar Pelayanan Minimal
Pada kesempatan itu, ia turut memperkenalkan UIN Syahada Padangsidimpuan sebagai kampus dengan Akreditasi Institusi Unggul dan sejumlah program studi unggulan, khususnya di lingkungan FTIK. Menurutnya, memilih kampus yang dekat dengan tempat tinggal bisa menjadi pilihan strategis bagi masyarakat Tapanuli Bagian Selatan—lebih hemat biaya dan memungkinkan mahasiswa tetap membantu orang tua di rumah.
Mengakhiri motivasinya, Dr. Suparni berpesan agar siswa tak pernah membatasi mimpi hanya karena latar belakang keluarga. “Jangan pernah berkata, ‘Saya hanya anak petani.’ Tetapi katakan, ‘Saya anak petani yang akan membanggakan orang tua.’ Masa depan tidak ditentukan oleh tempat kita dilahirkan ataupun pekerjaan orang tua kita, melainkan oleh kemauan untuk belajar, bekerja keras, berdoa, dan tidak pernah menyerah,” pesannya.(Galeh)


