Rabu, Oktober 14, 2026

Jamaah Al-Abror Dalami Makna I’tikaf di Ramadan

Must Read

Sidimpuanpos.com – Suasana Masjid Raya Al-Abror siang itu terasa lebih tenang dari biasanya. Setelah azan Dzuhur berkumandang pada Kamis (12/03/2026), para jamaah tidak langsung beranjak pulang. Sebagian memilih duduk bersila, membuka mushaf, atau sekadar menunggu dimulainya kajian Ba’da Dzuhur yang menjadi bagian dari rangkaian Gema Ramadan 1447 Hijriyah di Kota Padangsidimpuan.

Di mimbar sederhana masjid, Ustadz Dr. H. Sehat Sultoni Dalimunthe, M.Ag., hadir menyapa jamaah dengan tema yang terasa sangat dekat dengan suasana Ramadan: “I’tikaf dan Mendekat kepada Allah.”

Dengan suara yang tenang, Dr. Sehat Sultoni mengajak jamaah memahami bahwa i’tikaf bukan sekadar bermalam di masjid atau berdiam diri tanpa aktivitas. Menurutnya, i’tikaf adalah cara manusia memberi ruang bagi jiwanya untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia.

Baca Juga : Ramai Pemburu Takjil, Jalan Kenanga Padangsidimpuan Macet

“I’tikaf adalah momentum bagi jiwa untuk beristirahat dari urusan dunia. Di dalam masjid, kita mengurung diri dari godaan luar agar hati hanya terisi oleh asma Allah. Inilah cara paling efektif untuk melakukan muhasabah sebelum Ramadan berakhir,” tuturnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan khusyuk.

Penjelasan tersebut terasa mengena bagi banyak orang yang hadir siang itu. Di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, dan berbagai urusan sehari-hari, gagasan tentang “menepi sejenak dari dunia” terasa seperti panggilan yang menenangkan.

Hendra (43), seorang wiraswasta yang duduk di barisan tengah, mengaku baru memahami makna i’tikaf secara lebih mendalam setelah mengikuti kajian tersebut.

“Selama ini saya pikir i’tikaf itu hanya untuk orang yang tidak punya kesibukan. Tapi penjelasan Dr. Sehat tadi membuat saya sadar bahwa justru kita yang sibuk ini yang paling butuh i’tikaf untuk menenangkan pikiran,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia bahkan mulai merencanakan untuk mengikuti malam i’tikaf di Masjid Raya Al-Abror pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Hal serupa juga dirasakan Nurul (37), seorang tenaga pendidik yang datang bersama rekannya. Baginya, penjelasan tentang kedekatan hati dengan Allah menjadi bagian yang paling menyentuh.

“Kita sering kali dekat secara fisik dengan sajadah, tapi hati kita melayang ke mana-mana. Ceramah tadi memberikan gambaran bagaimana agar hati kita tetap hadir saat beribadah,” ungkapnya.

Dalam kajian tersebut, Dr. Sehat Sultoni juga menekankan bahwa inti dari i’tikaf adalah memperbaiki hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Caranya melalui memperbanyak zikir, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, serta merenungi perjalanan hidup dengan penuh kesadaran.

Lihat Juga : Sekda Paluta Serahkan Surat Tugas PMO dan BA KDKMP 2026

Menjelang akhir kajian, suasana masjid terasa semakin hening. Beberapa jamaah tetap duduk, melanjutkan doa atau membaca Al-Qur’an. Seolah pesan yang disampaikan siang itu masih bergema di dalam hati mereka.

Melalui kajian Ramadan ini, Masjid Raya Al-Abror berharap masyarakat Kota Padangsidimpuan tidak hanya menjalani Ramadan sebagai rutinitas tahunan, tetapi benar-benar memanfaatkan sisa hari-harinya untuk mendekat kepada Allah—terutama melalui ibadah i’tikaf yang akan segera memasuki waktunya dalam beberapa hari mendatang.(Dani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This