Sidimpuanpos.com – Saddam Huseini Siregar mengingatkan bahwa demokrasi Indonesia tengah menghadapi ujian yang tidak ringan. Menurutnya, ruang kritik publik yang semakin menyempit, melemahnya fungsi pengawasan terhadap kekuasaan, serta menguatnya praktik politik transaksional menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama.
Di tengah situasi tersebut, ia menilai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki tanggung jawab untuk tetap menjaga semangat perjuangan sebagai kekuatan intelektual yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
“PMII tidak boleh kehilangan jati dirinya dengan menjadi alat legitimasi kekuasaan. Sebaliknya, PMII harus tetap hadir sebagai oposisi intelektual yang kritis, independen, serta berlandaskan data dan argumentasi ilmiah,” ujar Saddam.
Baca Juga : Kemnaker Wajibkan Mitra MagangHub 2026 Terdaftar di WLKP
Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika kebijakan publik dinilai berpotensi merugikan rakyat. Gerakan mahasiswa, katanya, perlu kembali berada di garis depan dalam mengawal demokrasi, memperjuangkan keadilan sosial, serta membela kelompok-kelompok yang menghadapi ketidakadilan.
Saddam juga menyoroti tantangan baru di era digital. Ia menilai derasnya arus informasi, manipulasi opini, hingga maraknya buzzer dapat melemahkan suara-suara kritis masyarakat. Karena itu, kader PMII dituntut tidak hanya aktif melakukan advokasi di lapangan, tetapi juga mampu mengisi ruang digital melalui tulisan, kajian ilmiah, dan edukasi publik yang berbasis fakta.
Selain tantangan dari luar, ia mengingatkan pentingnya menjaga idealisme di dalam organisasi. Menurutnya, gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak dalam pragmatisme politik ataupun kepentingan jabatan yang mengesampingkan kepentingan rakyat.
Untuk memperkuat kembali peran PMII sebagai agen perubahan, Saddam mengusulkan tiga langkah utama, yakni membangun kembali pola pikir kader yang berorientasi pada pengabdian, meningkatkan literasi dan kemampuan analisis sosial, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat sipil, seperti buruh, petani, masyarakat adat, dan aktivis lingkungan.
Lihat Juga : Bupati Paluta dan Kajari Perkuat Sinergi Tingkatkan PAD
Menutup pernyataannya, Saddam menegaskan bahwa demokrasi akan tetap hidup selama ruang kritik terus dijaga dan keberanian intelektual tidak padam.
“Selama suara rakyat masih dibungkam dan ketimpangan sosial masih terjadi, kader PMII harus tetap berdiri bersama rakyat, merawat nalar kritis, serta menjaga demokrasi agar tetap berjalan sesuai cita-cita keadilan sosial. PMII lahir bukan untuk menjadi pelayan kekuasaan, melainkan menjadi pengawal kepentingan umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya. (Galeh)


