Sidimpuanpos.com – Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkah para jamaah yang perlahan memadati Masjid Raya Al-Abror, Kamis (26/02/2026). Memasuki hari kedelapan Ramadhan 1447 Hijriyah, masjid kebanggaan Kota Padangsidimpuan tersebut kembali menjadi tempat berlabuhnya hati-hati yang rindu ketenangan.
Usai salat Dzuhur, suasana masjid terasa berbeda. Hening, namun penuh kehangatan. Di antara saf-saf jamaah, hadir wajah-wajah yang datang membawa beragam cerita kehidupan — kelelahan, harapan, hingga doa-doa yang tak terucap.
Siang itu, tausiyah Ba’da Dzuhur menghadirkan penceramah muda, Ustadz Raja Ritonga, Lc., M.Sy., yang menyampaikan tema “Rahmat Allah di Bulan Ramadhan.” Dengan tutur kata yang lembut namun penuh energi, ia mengajak jamaah merenungi makna sepuluh hari pertama Ramadhan sebagai Awwaluhu Rahmah, permulaan yang dipenuhi kasih sayang Allah.
Baca Juga : Ombudsman Nilai Layanan Publik Paluta Berkualitas Tinggi
“Rahmat Allah itu luas, melampaui murka-Nya. Ramadhan adalah momentum kita untuk kembali, untuk berharap, untuk memperbaiki diri,” ucapnya, disambut keheningan khidmat para jamaah.
Kalimat demi kalimat yang disampaikan seakan menembus ruang batin pendengar. Bukan sekadar ceramah, tetapi pengingat yang menyentuh sisi paling manusiawi: harapan. Ustadz Raja menggambarkan Ramadhan sebagai waktu ketika pintu langit terbuka, saat kebaikan dilipatgandakan, dan ampunan begitu dekat.
Di sudut masjid, Ardiansyah (45), seorang aparatur sipil negara, menyimak dengan wajah teduh. Baginya, kajian siang itu bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan jeda yang menenangkan di tengah kesibukan pekerjaan.
“Ceramah tadi benar-benar menyejukkan. Kadang kita lelah dengan urusan dunia, tapi diingatkan tentang rahmat Allah membuat hati terasa ringan kembali,” tuturnya dengan senyum kecil.
Tak jauh darinya, Fatimah (38) tampak masih larut dalam suasana. Ia mengaku sengaja datang untuk mencari ketenangan. Pesan tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah menjadi bagian yang paling membekas di hatinya.
“Saya merasa seperti diingatkan secara pribadi. Seolah Allah masih membuka pintu selebar-lebarnya untuk kita yang ingin berubah,” ucapnya pelan, menahan haru.
Lihat Juga : Pemko Padangsidimpuan Gelar Rapat Tindak Lanjut IPKD MCSP 2025
Kajian siang itu ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ustadz Raja Ritonga. Lantunan doa menggema lembut, menyatu dengan harapan para jamaah — memohon keberkahan, keteguhan iman, dan kesempatan untuk benar-benar meraih makna Ramadhan.
Di Masjid Raya Al-Abror, siang Ramadhan bukan sekadar peralihan waktu. Ia menjadi ruang perjumpaan antara manusia dan harapan, antara kelelahan dan ketenangan, antara dosa dan rahmat yang tak pernah berhenti mengalir.(Dani)


