Rabu, Oktober 14, 2026

Warisan Budaya Madina, Amak Lampisan Curi Perhatian di PRSU

Must Read

Sidimpuanpos.com – Di antara deretan produk unggulan yang dipamerkan pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menghadirkan sebuah warisan budaya yang sarat makna. Bukan sekadar hasil kerajinan tangan, Amak Lampisan menjadi simbol kehormatan, tradisi, dan kejayaan budaya Mandailing yang terus dijaga hingga kini.

Tikar tradisional ini sejak dahulu dikenal sebagai alas duduk istimewa yang hanya digunakan dalam pesta-pesta adat kerajaan maupun acara besar kalangan bangsawan Mandailing. Dengan teknik anyaman yang khas, motif yang indah, serta nilai filosofis yang tinggi, Amak Lampisan menjadi lambang penghormatan bagi tamu kehormatan dan para pemimpin adat.

Kini, warisan budaya tersebut dipamerkan di Paviliun Kabupaten Madina pada PRSU 2026, mengajak para pengunjung mengenal lebih dekat kekayaan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga : DWP UIN Syahada Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan Anggota

Perwakilan Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal, Ervin Ritonga, Sabtu (11/7/2026) malam, mengatakan Amak Lampisan hingga saat ini masih digunakan dalam berbagai upacara adat, terutama pada pesta pernikahan kalangan tertentu.

Menurutnya, tikar yang dibuat dari anyaman daun pandan itu memiliki ciri khas pada ketebalan, jumlah lapisan, serta ornamen yang membedakannya dari tikar biasa.

“Anyaman tikar yang bertingkat-tingkat juga memiliki arti kasta si pengguna,” ujar Ervin didampingi Ali, penjaga stan Paviliun Madina.

Amak Lampisan juga dikenal dengan perpaduan warna khas, seperti kuning, hijau, merah, hitam, dan biru. Setiap warna memiliki makna filosofis dalam budaya Mandailing. Selain itu, jumlah lapisan tikar selalu dibuat ganjil, mulai dari satu hingga tujuh lapisan, sebagai bagian dari ketentuan adat yang masih dijaga hingga sekarang.

Ukuran tikar umumnya memiliki panjang sekitar 1,5 hingga 2 meter dan lebar 0,5 hingga 1 meter. Selain memberikan kenyamanan, ukuran tersebut juga menjadi bagian dari simbol status sosial dalam pelaksanaan upacara adat.

Tradisi pembuatan Amak Lampisan masih bertahan di sejumlah desa di Kabupaten Mandailing Natal, seperti Malintang Julu, Malintang, Huta Baringin, dan Tangga Bosi. Keberadaannya menjadi bukti bahwa seni anyaman khas Mandailing tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Lihat Juga : Tergiur Untung Cepat, 51 Warga Padangsidimpuan Jadi Korban Investasi Bodong

Tak hanya berfungsi sebagai alas duduk, Amak Lampisan juga menjadi simbol penghormatan, identitas budaya, serta kearifan lokal masyarakat Mandailing yang terus diwariskan kepada generasi penerus.

Selain menampilkan Amak Lampisan, Paviliun Madina juga memamerkan berbagai produk unggulan UMKM, di antaranya dodol Mandailing, kipang pulut, peyek koin, dan aneka produk olahan lainnya.

“Dodol Mandailing yang paling best seller. Saat ini kami melakukan pemesanan lagi karena sudah habis terjual,” kata Ervin.(Galeh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
Latest News

186 Kades di Musi Rawas Ikuti Workshop, Pengelolaan Dana Desa Ditekankan Harus Akuntabel

Sidimpuanpos.com, MUSI RAWAS – Sebanyak 186 kepala desa (kades) se-Kabupaten Musi Rawas mengikuti Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This