Sidimpuanpos.com, TAPANULI SELATAN – Kebutuhan listrik yang terus meningkat mendorong sistem kelistrikan membutuhkan pembangkit energi terbarukan yang tidak hanya bersih, tetapi juga mampu merespons perubahan beban secara cepat. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru berkapasitas 510 megawatt (MW).
Pembangkit yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) dengan memanfaatkan potensi Sungai Batangtoru ini diproyeksikan menjadi bagian dari sistem kelistrikan Sumatra sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan dari sumber daya domestik.
Direktur Teknik PT NSHE, Erwin Ansori, mengatakan PLTA Batangtoru dirancang tidak hanya untuk menambah pasokan energi terbarukan, tetapi juga memberikan fleksibilitas bagi sistem kelistrikan, termasuk ketika terjadi gangguan jaringan.
Baca Juga: Wali Kota Padangsidimpuan Ajak ASN Optimalkan Pengumpulan Zakat Melalui BAZNAS
“PLTA Batangtoru hadir untuk menambah pasokan energi terbarukan bagi sistem kelistrikan Sumatra. Dengan memanfaatkan potensi air yang dimiliki daerah ini sendiri, kami berharap dapat berkontribusi pada ketahanan energi sekaligus transisi menuju energi yang lebih bersih,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Salah satu keunggulan teknis pembangkit ini adalah kemampuannya menerapkan sistem peaker-follower dengan skema daily pondage atau waduk harian. Pola tersebut memungkinkan pembangkitan listrik disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan.
Kemampuan ramping rate yang relatif tinggi dibandingkan pembangkit fosil juga memungkinkan daya listrik dinaikkan dalam waktu relatif cepat saat dibutuhkan, terutama ketika sistem memasuki periode beban puncak. Dengan kemampuan tersebut, PLTA Batangtoru diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas dan keandalan pasokan listrik sekaligus membuka ruang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Pembangkit ini juga dirancang memiliki kemampuan black start, yakni kemampuan melakukan pemulihan dan pengoperasian secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan listrik dari luar ketika sistem kelistrikan mengalami kondisi padam.
Dari sisi pengelolaan air, PLTA Batangtoru menggunakan konsep daily pondage. Artinya, pembangkit tidak mengandalkan waduk untuk menampung air dalam volume besar dalam jangka panjang seperti waduk tahunan. Air yang digunakan untuk pembangkitan setiap hari akan dialirkan kembali ke Sungai Batangtoru setelah melewati mesin pembangkit di Power House.
Pengoperasian dilakukan berdasarkan prosedur dan pemantauan kondisi debit Sungai Batangtoru sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan kawasan hilir. Dukungan teknologi juga terlihat dari sistem pengaliran air menuju instalasi pembangkit melalui terowongan bawah tanah atau head race tunnel sepanjang sekitar 12,2 kilometer dengan diameter 8,8 meter. Sistem ini dirancang untuk mengurangi bukaan lahan di permukaan.
Sejumlah bangunan utama saling terhubung dalam sistem pembangkitan, mulai dari bendungan dan waduk, Surge Tank, Power House, Switchyard, hingga Transmission Line. Bendungan utama menggunakan tipe Concrete Gravity Dam, dengan perencanaan yang mempertimbangkan kondisi geologi, geoteknik, dan penilaian bahaya kegempaan atau Seismic Hazard Assessment.
Tenaga Ahli PT NSHE, Hadi Susilo, mengatakan pemilihan teknologi dan desain bangunan dilakukan berdasarkan kajian teknis terhadap karakter kawasan serta pola debit banjir Sungai Batangtoru dengan mengacu pada standar keamanan yang berlaku.
“Pilihan teknologi dalam merencanakan setiap bangunan proyek PLTA Batangtoru kami rancang berdasarkan kajian teknis karakter kawasan dan pola debit banjir Sungai Batangtoru, sesuai dengan ketentuan standar keamanan yang berlaku,” katanya.
Menurutnya, desain bendungan, waduk, dan bangunan pelengkapnya telah memenuhi ketentuan keselamatan bendungan serta mendapat persetujuan Menteri Pekerjaan Umum berdasarkan rekomendasi teknis Komisi Keamanan Bendungan (KKB) melalui Kantor Balai Teknik Bendungan Kementerian Pekerjaan Umum.
Sementara itu, infrastruktur transmisi menjadi bagian penting untuk memastikan listrik dari pembangkit dapat terhubung dengan sistem kelistrikan. PLTA Batangtoru didukung jaringan transmisi 275 kilovolt (kV) yang mencakup pembangunan tower, persiapan konduktor, serta berbagai infrastruktur pendukung pada jalur transmisi.
Aspek keselamatan juga menjadi bagian dari pengembangan pembangkit. PT NSHE menerapkan standar keselamatan dalam pekerjaan lapangan dengan mempertimbangkan kondisi area kerja, kesiapan pekerja dan peralatan, serta prosedur keselamatan yang berlaku.
Pemantauan kondisi bendungan dan bangunan pelengkap dilakukan melalui sejumlah instrumen monitoring, antara lain Extensometer, Piezometer, dan Strong Motion Accelerograph. Data dari instrumen tersebut digunakan sebagai bagian dari evaluasi keamanan bendungan secara berkala.
Sistem tersebut diperkuat dengan Early Warning System (EWS) yang telah melalui uji coba dan disosialisasikan kepada masyarakat di sekitar kawasan.
Lihat Juga: Tiga Rumah di Pasar Gunung Tua Paluta Rata dengan Tanah Dilalap Api, Kerugian Rp750 Juta
Manajer Kualitas PT NSHE, Zul Fadli, menegaskan bahwa keselamatan menjadi bagian dari setiap tahapan pekerjaan dan pengoperasian instalasi.
“Keselamatan menjadi bagian dari setiap tahapan pekerjaan. Kesiapan instalasi kami ukur dari hasil pengujian dan data pemantauan yang dilakukan secara berkala,” ujarnya.
Di sisi lain, pengembangan PLTA Batangtoru juga disertai pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dokumen lingkungan yang berlaku. Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional, pengembangan PLTA Batangtoru dilakukan PT NSHE dengan berkoordinasi bersama kementerian dan instansi terkait sesuai ketentuan yang berlaku.(galeh)
Dengan kapasitas 510 MW, dukungan jaringan transmisi 275 kV, serta kemampuan merespons kebutuhan sistem secara cepat, PLTA Batangtoru diproyeksikan menjadi salah satu tambahan sumber energi terbarukan bagi sistem kelistrikan Sumatra.
Pemanfaatan potensi air Sungai Batangtoru tersebut diharapkan tidak hanya menambah kapasitas pembangkitan, tetapi juga ikut memperkuat ketahanan energi dan mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih bersih di Indonesia.(galeh)


