Sidimpuanpos.com – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah, Masjid Raya Al-Abror Kota Padangsidimpuan terus konsisten menjadi pusat syiar Islam bagi masyarakat.
Pada Kamis (05/03/2026), agenda rutin ceramah Ba’da Dzuhur menghadirkan penceramah senior, Ustadz Drs. H. Zainal Arifin Tampubolon.
Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema yang sangat krusial namun sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, yakni “Bahaya Ghibah” (menggunjing orang lain).
Baca Juga : Pemko Padangsidimpuan Percepat Digitalisasi Transaksi APBD dengan KKPD
Beliau mengingatkan bahwa ghibah merupakan salah satu “perampok” pahala puasa yang paling nyata.
Ustadz Zainal Arifin menjelaskan dengan gamblang bahwa puasa bukan hanya soal menahan rasa lapar di perut, melainkan juga “memuaskan” lisan dari membicarakan keburukan orang lain.
”Ghibah itu diibaratkan dalam Al-Qur’an seperti memakan bangkai saudara sendiri. Sangat menjijikkan. Jangan sampai kita sudah lelah menahan lapar dan dahaga sejak subuh, namun di siang hari pahalanya ludes terbakar karena kita asyik membicarakan aib orang lain,” tegas Ustadz Zainal dalam tausiyahnya yang lugas.
Ustadz Zainal Arifin juga menambahkan bahwa di era digital saat ini, ghibah tidak hanya terjadi lewat lisan secara langsung, tetapi juga melalui jari-jemari di media sosial dan grup-grup percakapan digital.
Tema yang dibawakan oleh Ustadz Zainal Arifin ini memicu diskusi dan refleksi mendalam di kalangan warga yang hadir.
Rizal (42), seorang karyawan swasta, mengaku merasa diingatkan secara keras oleh ceramah tersebut.
”Zaman sekarang sulit sekali menghindari ghibah, apalagi kalau sudah berkumpul dengan teman-teman. Ceramah Ustadz Zainal tadi jadi ‘rem’ buat saya agar lebih menjaga lisan dan jempol di media sosial, terutama di bulan puasa ini,” tuturnya.
Lihat Juga : Panic Buying BBM, Antrean Panjang Terjadi di SPBU Padangsidimpuan
Sementara itu, Mariam (55), seorang jamaah yang aktif mengikuti pengajian, merasa materi ini sangat relevan untuk menjaga keharmonisan bertetangga.
”Penyampaian beliau tadi sangat jelas. Benar kata Ustadz, lebih baik kita sibuk memperbaiki aib sendiri daripada sibuk mengurusi aib orang lain. Saya merasa lebih damai kalau fokus pada ibadah saja,” ungkapnya.
Kajian yang berlangsung selama kurang lebih 45 menit ini ditutup dengan harapan agar masyarakat Kota Padangsidimpuan dapat menjadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum untuk melakukan “detoksifikasi” hati dan lisan.
Usai doa penutup, para jamaah membubarkan diri dengan tertib untuk melanjutkan rutinitas masing-masing.(Dani)


