Sidimpuanpos.com – Candi Sangkilon terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Saat pertama kali ditemukan, bangunan candi ini sudah dalam kondisi tidak utuh, hanya menyisakan sebagian kaki dan tubuh tanpa atap (13/4/2026).
Meski telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya, hingga kini Candi Sangkilon belum mengalami pemugaran dan masih minim perawatan. Kurangnya pengawasan juga menyebabkan kondisi candi semakin rusak, salah satunya akibat aktivitas pemburu harta karun yang merusak bagian situs.
Secara historis, Candi Sangkilon berada di tengah perkebunan kelapa sawit dan tidak jauh dari Sungai Sangkilon. Di lokasi ini terdapat reruntuhan bangunan induk serta tiga gundukan tanah yang diduga sebagai sisa bangunan candi lain, meskipun struktur aslinya sudah tidak terlihat jelas.
Baca Juga : Letnan Dalimunthe Siap Majukan Gerakan Pramuka di Daerah
Bangunan induk memiliki denah berukuran 11 x 11 meter dengan tinggi kaki sekitar 3,1 meter. Saat ini, yang tersisa hanya sebagian kaki dan dinding di sisi barat serta utara. Pada bagian tangga terdapat sepasang hiasan makara yang sudah dalam kondisi rusak, dengan ornamen makhluk raksasa di bagian mulutnya.
Selain itu, terdapat tiga gundukan lain di sekitar lokasi, yakni Gundukan A berukuran 6 x 9 meter dengan tinggi 6 meter, Gundukan B berukuran 6 x 9 meter dengan tinggi 4 meter, serta Gundukan C berukuran 5 x 6 meter dengan tinggi 1 meter.
Ditengah kondisi yang memprihatinkan, masyarakat sekitar mulai berinisiatif menjaga area, Willy (29) mengatakan bahwa warga kini rutin membersihkan bagian tepi candi agar tidak tertimbun tanah dan semak. “Sekarang tepi-tepi candi sudah dibersihkan masyarakat supaya bangunan tidak tertimbun lagi,” ujarnya.
Lihat Juga : Musrenbang RKPD 2027, Pemko Fokus Infrastruktur dan Ekonomi Rakyat
Hal senada disampaikan Andi (28) yang menilai langkah tersebut penting untuk menjaga sisa bangunan agar tetap terlihat dan tidak semakin rusak.
Sementara itu, Iqbal (24) juga menegaskan bahwa kepedulian masyarakat menjadi upaya awal dalam melestarikan situs bersejarah tersebut di tengah minimnya perhatian dari pihak terkait.(fazry)


